Senin, 13 Januari 2014

2014



Senin, 13 Januari 2014

Selamat tahun baru. Hehehe.

Gue mau cerita. Belakangan gue lagi suka sama seorang laki-laki. Semuanya ga ada masalah sampai gue menemukan bahwa dia gay. Lalu kemudian, hal itu ga jadi masalah juga buat gue, karena dia itu artis. Jadi kalaupun dia normal, gue cuma bisa mimpi bahkan buat ketemu dia doang.

Namanya Neil Patrick Harris.

Tapi gue pikir-pikir lagi, daripada NPH-nya yang gue ga tau kaya apa tingkah aslinya gue sadar yang gue suka adalah karakternya di sitcom How I Met Your Mother. Dibilang suka, enggak juga. Karena kalau kalian beberapa kali nonton, si Barney Stinson ini playboy yang ngibulnya gak kira-kira dan hanya berorientasi pada sex. Terkenal nyentrik dan punya jalan pikir yang gak di duga-duga. Womanizing katanya istilah buat karakternya. Dia suka sulap, blak-blakan, ga banyak pertimbangan kayak si Ted Mosby.

Karakternya emang rada geblek, tapi gue inget satu adegan, yang buat gue mikirin dia 2 kali, 3 kali, dan seterusnya. Gue langsung ke belakangnya aja ya. Jadi si Barney ini mulai kehilangan kepercayaan dari satu cewe yang disukainya lebih serius dari biasanya. Si Barney bilang, bahwa dia akan buktiin kalau kali ini dia serius dan akan menunggunya di restoran semalaman. Si cewe itu pergi.

Besok paginya, cewe itu dateng lagi dan melihat Barney masih duduk di sana.

Geez, I love him.

Selang beberapa lama, gue browsing dia di youtube, dan menemukan performancenya di opening Tony Awards 2011. Gue seneng sama lagunya dan menurut gue penampilannya keren banget. Udah tuh, surut lagi. Selang lagi, gue nonton opening Tony Awardsnya yang 2012, 2013, dan performance special natalnya di Disneyland waktu natal. Anjir, I’m fallen for him.

Dari sana, gue berniat untuk memperdalami kemampuan gue berbahasa Inggris. Terutama karena NPH ini kalau dalam performancenya baik di HIMYM maupun waktu nyanyi sambil dance (mereka nyebutnya broadway kalo ga salah) menggunakan pronounce yang baik, dan gue sebagai awam yang selama 17 tahun ini ga terjun-terjun amat buat mati-matian jagoin Inggris.

Specially, kalian harus nonton performancenya di Opening Tony Awards 2013, karena broadwaynya keren abis. Gokiiiiil . Brb nonton HIMYM tanpa sub ^^~~~~ *walaupun konsekuensinya adalah tu film lawak jadi garing abis karena gue ga ngerti wkwkkw.

Abis ngepost tulisan tahun lalu yang telat banget hehhee.

Ternyata, dalam waktu 3 bulan udah banyak yang berubah ya.

Oke, meramaikan blog yang lain, gue akan share pengalaman gue mengikuti PPA BCA juga.

Di bulan November 2013 gue mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan ke guru BP untuk dikirim bareng-bareng lewat alumni Regina Pacis Bogor yang berbaik hati. Kalau gak salah namanya Kevin. Makasih ko Kevin J

Lalu sampailah SMS ke nomor hp gue sekitar tanggal 16-18 Desember, yang isinya undangan untuk mengikuti psikotest yang diadakan hari Sabtu, 21 Desember 2013. Gue banyak mengorek informasi dari masyarakat yang menulis pengalamannya di blog. Mungkin soal isi psikotest tahap 1 ga perlu gue bahas, ya? Saran gue sih, pelajari deret hitung. Soalnya itu beberapa berpola, dan latihan sangat membantu. Intinya fokus, tapi jangan lupa quotenya Daniel Atlas di Now You See Me, ‘The closer you look, the less you will see.’ maksud gue, seimbangkan antara melihat secara keseluruhan, dan fokus dengan makna yang coba disampaikan tiap angka. Dan jernihkan otak, karena ada test memahami bacaan yang berupa wacana, tajuk, dan lain-lain yang memerlukan ketelitian tinggi.

Psikotest tahap 2, akan jadi bahan wawancara tahap 1. Terutama yang nerusin kalimat yang belum selesai. Kecuali test Koran. Untuk test Koran, seperti yang pernah ditulis blog orang juga. Jangan sekedar ngandalin kuantitas, tapi juga kualitas. Karena menurut gue, tingkat akurasi juga dilihat. Dan kestablian kecepatan loh. Soalnya tiap suatu interval, kita disuruh bikin garis buat nandain. Di kertas A2 yang penuh oleh angka bolak-balik itu, ada satu anak dari antara 20-an anak yang sampe nambah kertas. OoO ya! Melototlah! Karena gue yang kata temen sebelah gue udah ngebut aja cuma sanggup Satu halaman lebih setengah. Yah, meskipun gue akui gue ngaso beberapa kali, nge-fur-ga deh. Gila kali nge-fur hahahaha. Itu karena gue mempertimbankan akurasi tadi, yang menurut gue akan menurun rationya kalau gue ga istirahat. Dan meregangkan belakang leher serta pergelangan tangan yang nyut-nyutan. Itupun saking capeknya, gue pulang dan tidur dari jam 7 malem sampai jam 7 pagi. -____- teller gila.

Gue rasa, penentuan kelolosan psikotest tahap 2 ini terletak di test Koran. Mungkin yang tes kepribadian diperhitungkan, tapi gue yakin lebih fokus ke test Koran ini. Soalnya, dari gerombolan kami ber-4 yang lolos ke psikotest tahap 2, cuma tinggal 2 orang yang diperkenankan mengikuti test wawancara.

Sepuluh hari setelah hari psikotest yang menguras energy itu, gue di telpon dari pihak BCA. Katanya gue diundang untuk mengikuti test wawancara tahap 1 yang akan diadakan hari Ju’matnya, 3 Januari 2014. Dan hari gue menulis ini, tepat sepuluh hari setelah hari gue test wawancara tahap 1. Seharian, gue menatap layar HP gue hampa, karena ga ada dering telepon ataupun SMS. TT.TT. Memang belum dipastikan kalau peruntungan gue berakhir hari ini, tapi semakin hari semakin tipis, you know.

Oke, gue certain soal wawancara aja kali ya. Jadi, gue dikeroyok oleh 2 orang, cewek dan cowok. Yang cewek namanya Bu Irene. Yang cowok gue ga tau hehehe, ga kepikiran buat nanya karena nervousnya kayak waktu pidato kemarin-gue siapin pidato 4 menit, dan sekitar 15 menit sebelum maju gue baru sadar minimal 5 menit. Yang ditanyain kebanyakan soal gue. Misalnya gue punya berapa temen deket, bagaimana gue menurut gue, kekurangan yang ingin gue hilangkan, pelajaran kesukaan-gasukaan, hubungan keluarga gue, dan lain-lain. Dan jangan tulis aneh-aneh di test yang disuruh lanjutin kalimat, seperti tadi gue bilang, gue banyak di jebak di situ. -___- Kalau mau nulis sesuatu, pastikan itu bener-bener dirimu. Biar ga gelagapan aja, sih.

Wawancara tahap 1 ini gue ga bisa ngasih saran, karena gue belum tau nasib berkata apa TT.TT Kalau gue ngasih saran, ujung-ujungnya gue cuma narik orang ke jurang.

Buat yang pengalaman, share ke saya dong. Pengumuman wawancara 1 dikasih tau kapan, sih? Saya hampir lumutan menanti di sini tanpa kepastian (cie).

Late Post :p



Sabtu, 26 Oktober 2013

Gue kembali, tanpa pencerahan. Makin kusut iya.

Setelah memperjuangkan Surya University sampai tetes-tetes air mata, gue kembali mempertimbangkan akuntansi biasa di universitas yang berletak di Grogol. Baru aja gue seneng abis karena kedua orang tua gue ‘membiarkan’ gue masuk Surya. Dan nyokap gue kembali menyatakan dukungannya untuk gue memilih yang gue mau, meskipun ga ada satu suarapun keluar dari bokap gue.

Tapi emang dasar ibu, kata-kata dia kembali membuat gue berpikir. Lulusan akuntansi, meskpun gue hina karena banyaknya sebanyak ikan di laut, tapi banyak diperlukan. Semua perusahaan, kecil, besar, menengah, butuh tenaga ahli akuntansi. Dan gajinya emang menggiurkan, kata blog seseorang. Khususnya seorang auditor, fresh graduate bisa dapet gaji yang lumayan. Dan setelah mengetik dengan berbagai macam tulisan, gue ga menemukan satupun job untuk seorang financial analyst yang oke. Di blog seseorang tadi juga disebutkan job finance analyst, tapi gajinya kalah dari gaji auditor. Damn.

Kalau mikir soal lowongan pekerjaan finance analyst di google kalah sama sarjana akuntansi biasa, tiba-tiba Untar punya nilai banyak kelebihan. Karena selain murah di ongkos, lulusannya lebih terpakai. Sementara di Surya, gue udah menghabiskan uang hingga 2 kali lebih banyak, dan ga semua perusahaan nerima gue, dengan penghargaan yang pantas, ini menurut gue.

Meskipun ga dipungkiri, jurusan semacam ini belum ditemukan di Indonesia. Paling ga belum ramai, gitu.

Minggu, 27 Oktober 2013

Sekitar setengah sampai 1 jam lalu, gue puter haluan ke Binus. Boleh gue ngomong kata kasar?
Gue menjilat ludah gue sendiri, dengan mencari-cari soal binus. Dan jeng jeng jeng.

Hari ini adalah tes gelombang terakhir untuk jalur beasiswa.

3 hari yang lalu adalah hari terakhir pendaftaran.

Jadi gue ga mungkin lagi masuk binus dengan potongan minimal 15%.

Gue lagi nangis, walaupun gue benci kalau gue kesekolah dengan mata bengkak lagi.
Rencananya mau hemat uang, malah begini.

Bagi gue, memperoleh beasiswa bukan sekedar penghematan uang. Salah satunya tertulis di visi gue, dan terakhir untuk prestise. Yup. Bagi ibu-ibu sosialita mungkin tas Chanel limited edition, bagi anak kecil mungkin mainan terbaru, dan lain-lain. Tapi bagi gue adalah seberapa besar gue memperoleh beasiswa, dan berapa besar penghematan yang gue lakukan. Gue pengen ngatain diri gue sendiri karena sombongnyaaaa..

Mungkin ini cara Tuhan mengajar gue untuk tidak sombong berlebihan.

Bahkan otak gue sedang mengejek gue. Riset? Universitas berbasis riset? BTW gue abis survey lapangan dimana Surya University berpijak.

Gue ga terima aja, istilahnya, anak sepinter gue kenapa harus masuk dengan jalur biasa?

Oke, berhenti sombong. Kalau begini terus, bisa-bisa gue malah ga kuliah sama sekali.

Gue tau gue sakit jiwa.

Kenapa hari ini harus 27 Oktober?

Kenapa gue baru berpikir soal binus sekarang?

Kenapa.. kenapa mimpi itu selalu indah?

Kenapa kenyataan jatuh di dasar banget?

Kenapa nasib ga berpihak ke gue?

Kenapa gue harus jadi gue? Why I have to be me?

Udah banyak gunung yang gue kira bakalan bisa di daki. Mulai dari mimpi ke Kyungsung, President University, UI, Surya University, Untar.. Binus ini sama sekali ga terlintas di mimpi gue. Dan sekalinya gue mau ke sana, Binus udah keburu berpaling.

Hidup.

Gue berpikir, seandainya gue bukan hidup dalam keluarga yang nilai religiusnya kuat, gue pasti akan bunuh diri sekarang. Gue ga kuat memikul malu sama diri gue sendiri, meskipun orang tua gue bahkan ga mempermasalahkan itu.

Senin, 4 November 2013

Stop membicarakan universitas, karena dari awal memang sudah seharusnya bukan hal itu yang gue bahas. Masalahnya sekarang, gue sekolah aja udah males. Ada proyek ini itu, bikin kerjaan. Dan lain-lain. Ah.
Hm, bahas apa ya?

Oh ya, ini baru kemarin terlintas di pikiran gue. Soal keberadaan partai politik di Indonesia yang menurut gue ga sehat. Kebetulan tadi pagi guru gue juga menyinggungnya seklias. Gue ga setuju keberadaan partai politik yang berasaskan agama di wilayah pemerintahan eksekutif. Agama apapun itu. Ya, ya. Sila kesatu kita keTuhanan. Intinya Negara kita mengataskan Tuhan dari segalanya. Tapi menjadi bagian dalam koalisi pada penjabatan Presiden dan wakilnya, gue cuma merasa aneh.

Kita kan bukan Negara agama?

Partai agama ini itu menurut gue harusnya sebatas duduk di DPR, sebagai penyalur aspirasi masyarakat agama ini itu dalam kegiatan pemerintahan dan pembentukan undang-undang. Plis, Presiden dan Wakil Presiden kasih ke partai Nasionalis aja. Toh Presiden dan Wakilnya beragama. Sudah pasti punya rasa solidaritas yang tinggi atas agamanya, dan rekan agama yang lain sebagai sesame yang diajarkan dalam interen agama.

Gue bicara ini sebagai minoritas, tentu saja.

Guru gue mendukung dengan berpendapat kalau agama tidak bisa dicampur adukkan dengan politik. Lihat agama Katholik? Sampai pecah dua men.

Yang pasti, dipimpin kader dari partai beragama bukan berarti Tuhan beserta kita.

Peace.

Selasa, 5 November 2013

Halo, selamat tahun baru Muharam!

Semalem gue mimpiin ahjussi kesayangan gue lagi, So Jisub. Seperti biasa, ceritanya ga jelas. Seharusnya gue bareng sama dia, tapi entah bagaimana kita terpisah dan gue sama orang lain. Aduh, gue ga ngerti deh. Sekarang malah gue ragu itu cerita So Jisub hehehe. Seinget gue sih dia.

Cuma satu kejadian yang gue inget. Ceritanya dia lewat, dan gue kaget setengah mati. Bukan kaget sebagai fangirl, tapi kaget sebagai tersangka suatu kesalahan sama dia. Dia lewatin gue, tapi ga lama berbalik dan menemukan gue. Bener ga ya?

Beberapa bagian di mimpi ini rasanya udah pernah gue mimpiin sebelumnya. Soal video-video tentang siapalah yang lagi apalah tau. Ga jelas ya? Hm, soalnya pas bangun gue ga sadar gue mimpiin So Jisub jadi ga langsung nyatet. Daaan hasilnya tara! Gue ngelantur kaya gini wkwkk.

Jumat, 8 November 2013

Hadir kembali, godaan untuk mendaftar ke universitas Surya. Tenang, mungkin ini kali terakhir gue tergoda, karena batas akhir pengajuan beasiswa 15 November, tepat 7 hari dari hari ini. Pasalnya, guru BK gue kembali mendekati gue dan memastikan apakah gue menerima Surya atau tidak. Lalu gue nanya. “Siapa lagi yang daftar Surya?” beliau nyebut satu anak IPS kelas sebelah, cewe, dan kebetulan satu SD sama gue. Barusan gue Line dan nanya macem2 sama dia. Katanya dia mau masuk jurusan komunikasi -_- Dear, di surya ga ada komunikasi semacam itu. Oke, gugur. Dan kalau udah begini, alasan-alasan gue pengen masuk Surya kembali bermunculan, baik yang gue kemukakan ke orang tua gue maupun tidak. BTW, bokap gue akhirnya setuju-setuju aja gue untuk ngekos. Hehehe.
Tapi hasutan nyokap gue memang ampuh. Entah memang beliau benar atau beliau yang masih konvensional dan bersikap apatis sama universitas yang boro-boro terakreditasi, murid-muridnya aja baru belajar sekitar 3 bulan di sana, serta jurusannya yang ga punya lapangan kerja yang banyak. Tapi di terakhir, beliau tekankan lagi, kalau semua itu dari sudut pandangnya. Jadi keputusan tetap di tangan gue. Intinya, nyokap gue lebih setuju gue ke UNTAR.
Ngomong-ngomong, alasan yang ga pernah gue sebutkan ke orang lain itu adalah keangkuhan. Betapa bangganya ketika orang tua gue ditanyai oleh keluarga, kerabat, dan teman dekatnya “Anak lo kuliah di mana?”. Mungkin kalo jawab Surya orang ga merespon banyak. Tapi ketika mereka meneruskan “abis berapa?” dan nyokap gue akan menyahut “Dia dapet beasiswa 100%” itu wow banget. We o we. Sebagai anak nyokap gue, gue kan pengen buat dia bangga juga dengan bukti kalau gue mungkin ga berbakat dalam bersosialisasi, tapi gue bisa dihargai sebuah universitas yang uang kuliah normalnya 3 juta sebulan sampai menggratiskan biaya kuliah demi gue menimba ilmu di sana. That’s it.
Mengingat gue yang galaunya selangit begini, mungkin gue memang kurang pantas menekuni bidang analisis.

Sabtu, 23 November 2013

Halo, kembali dengan gue.

Sekali lagi, gue membawa kegalauan gue mengenai Universitas. Ga habis-habis ya?

Kali ini dari perusahaan raksasa, Bank BCA. Ngga, gue ga ditawarin khusus dengan nilai gue yang belakangan oke. Ini jalur regular. Lewat tes, tapi kalau gue sampai di terima, gue bisa menempuh pendidikan D3 selama 2,5 tahun, lalu lanjut ke Universitas Trisakti dan sekitar 1 tahun gue lulus sebagai Sarjana Ekonomi Trisakti. Oke, kan? Lalu hebatnya, kita ga perlu bayar. Semua ditanggung sama pihak BCA. Bahkan sampai uang sekolah gue selama semester 2 di kelas 3 ini bisa dirembes. Selama 2,5 tahun belajar, gue digaji 2,5 juta sebulannya. Kuliahnya setiap hari, dan dapat makanan ringan jam 11 dan jam 3. Hari sabtu, kabarnya, makan siangnya dalam bentuk buffet.

Tiga kata buat program Program Pendidikan Akuntansi BCA. Anjir. Keren banget. wkwkwk.

Bahkan temen gue yang tadinya ga neko-neko mau daftar Universitas Negeri Jakarta jurusan musik, karena memang passionnya di sana, mau daftar juga. Gembel memang.

Tapi ini kesempatan buat gue, karena lulusannya bisa dipastikan ga nganggur. Karena pihak BCA akan bersedia memperkerjakan gue. Yah, kecuali gue bandel dan geblek atau agak gila.

Gue baru mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Doakan ya, gue berhasil lolos saringan 2 psikotest + 2 wawancara + 1 medical test. Terutama kemudian IPK gue ga pernah di bawah 2,75. Karena kalau ga.. out. Jeglek.

Masalahnya adalah, gue udah membayarkan angsuran pertama gue ke untar. Ah..

Rabu, 11 Desember 2013

Oke, banyak yang bisa gue ceritakan, tetapi gue ga lagi mood curhat. Gue cuma bête karena ulah ‘idol’ dalam program Running Man. Gue sangat suka variety show dari luar negeri ini, dan kebetulan gue lagi nonton yang bintang tamunya disukai hampir semua orang. IU. Yeah, gue suka lgu-lagunya. Tapi dia udah di Running Man beberapa kali, dan gue kurang suka dengan kehadirannya di sana. Dia seperti Shin Sekyung. Pembawaannya serius, dan daripada berbohong, dia memilih tertawa-tawa blablabla. Dan dia berteriak dengan suara melengkingnya ketika teman satu grupnya jatuh. Gue tau, kalo gue diseret ke variety show macem gitu, mungkin gue lebih buruk dari yang IU lakukan. Masalahnya, kalau gue jadi artis dan gue tau gue ga cocok, gue ga akan coba melakukan promosi dengan jalur variety show. Kecuali episodenya lagi special idol gitu. Lah, ini dia di pasangin sama comedian senior Park Myungsoo. Kan gue jadi serbasalah. Dan gue memang agak males sih sama IU kalo dalam konteks variety show. Dia lebih cocok ke talkshow mungkin menurut gue. Variety show menuntut pengalaman yang banyak dan kepribadian yang cocok. Dan menurut gue, IU cocokan nyanyi, karena memang itu profesinya. Dan gue cuma senang dengar lagu-lagunya. Dia bikin gue nonton Running Man dengan bad mood.

Maaf yah, sekali lagi gue bukan haters IU, tapi kalo ada guest IU sendirian, dengan pertimbangan temanya kurang asik, sebisa mungkin gue hindari. Dan idol-idol lain yang ‘newbie’ di variety show.

Jumat, 25 Oktober 2013

Nasib di Tangan Bus Patas AC yang Mampir Tol Kebun Jeruk dan Tol yang Menuju Gading Serpong *HELP* [Part 2]



Jumat, 25 Oktober 2013

Kali ini gue menulis, masih dengan kegalauan. Bahkan setelah jam-jam sepanjang malam kemarin gue isi dengan raungan yang minta dikasihani. Yeah, gue memang cengeng. Baru sebentar ngobrol dan ditekan untuk meninggalkan Surya University dengan banyak pertimbangan. Satu, belum tentu ada bus patas yang lewat tol Kebun Jeruk dan berhenti di Gading Serpong. Dua, kalau hujan repot. Tiga, kalau hari Jumat bisa-bisa gue ga pulang, saking macetnya di tol. Lalu gue berlari ke kamar gue dan menangis sampai tidur. Gue bahkan ga sempat mengucapkan kalimat yang bisa digunakan sebagai senjata.

“Kita harus keluar dari zona nyaman.”

Itulah pointnya, kenapa gue kebirit-birit mengejar Surya University. Karena walaupun jatuhnya biaya kuliah sama aja dan akreditasinya belum ketahuan, gue yakin Surya University patut diperjuangkan. Setidaknya, otak gue lebih banyak bekerja. Masalahnya, selama 2 tahun gue belajar dasar-dasar akuntansi, meskipun dibilang dasar banget dan ga ada apa-apanya sama keseluruhan program jurusan akuntansi yang sesungguhnya, gue merasa otak gue ga digunakan secara maksimal. Dari apa yang gue lihat dengan wawasan gue sekarang, akuntansi, apalagi cuma lulusan S1, cuma seperti tempat training. Satu-satunya yang menguras nalar cuma penghitungan AJP, dan itupun cuma sulit di awal-awalnya, terutama karena gue ga berusaha mengerti. Waktu itu awal-awal kelas 11.

Dan sebagai pencari alasan yang baik, gue merasa kalau kuliah akuntansi itu sama seperti mengubur otak pada sistem. Dan ga diajarin untuk melihat sistem itu dari luar. Inilah yang gue incar dari Surya University. Analyst. Financial Analyst. Meskipun gue ga bakat-bakat amat menganalisa, tapi jurusan itu jauh lebih menarik dari sekedar tata buku akuntansi.

Memang Untar terkenal dengan fakultas ekonominya, setidaknya itu menurut orang tua gue, dari zamannya. Dan kebetulan letaknya dekat, paling lama satu jam dengan angkutan umum. Dan harganya juga kebetulan ga gitu nguras. Dan Untar bekerja sama sama perusahaan akuntan publik terkemuka, Ernst & Young. Peluang gue menembus perusahaan besar itu lebih besar.

Gue berandai-andai, letak Untar di Gading Serpong dan Surya University di daerah Grogol.

Gue pasti positif masuk SU, mana Untar cuma ngasih diskon 20% atas kerja keras gue 2 tahun di sekolah yang sulit perolehan nilainya dan menurut gue SANGAT ga adil. Bayangin aja, seorang anak yang ga naik waktu gue kelas 10 pindah ke sekolah T, dan kemudian dia tetap dinaikkan, dan kalian tahu, dia jadi KETUA OSIS. Dari sekolah yang sama, gue menemukan beberapa anak yang coba jalur seperti gue ke Untar, dan mereka akhirnya dapet potongan >50%.

Siapa yang bisa terima dengan lapang dada? Gue ga mencela prosedur jalur perolehan beasiswa Untar, karena gue sendiri ga kepengen jalur tes beasiswa. Gue cuma merasa sampah, malu sendiri kalau melangkah ke sana, dengan usaha lebih keras, tapi ga berhasil menyimpan uang lebih banyak.

Tapi di SU, gue merasa dihargai. Walaupun gue tau gue bakalan bayar selama 3 tahun karena perolehan IP semacam itu mustahil. Setidaknya bagi gue itu mustahil. Hehehe.

Itu aja. Gue sama sekali ga berniat merendahkan Untar yang pengalamannya jauh lebih uzur dibanding anak ingusan kemarin sore Surya Univercity, walaupun pendiri Surya University jauh lebih menyentuh gue sampai ke dalam-dalaman.

Sekalipun pada akhirnya gue melangkah juga masuk kampus Universitas Tarumanegara, gue ga akan lalai belajar keras dan mencapai IP yang maksimal. Gue akan berusaha keras di manapun gue belajar. Tapi alangkah baiknya kalau gue bisa masuk Surya University.

Tolong info dong, bus patas yang mampir tol Kebun Jeruk dan mampir Gading Serpong juga..