Jumat, 10 Agustus 2012
Back = Punggung
Missed his back so much.
Jumat, 10 Agustus 2012
Mengherankan, setelah masuk IPS gue malah semakin sibuk.
Dalam arti ga punya terlalu banyak waktu hingga cukup buat nulis catatan
harian. Jeleknya, gue ga mungkin menceritakan semua detail selama 2 minggu
dalam sekali menulis. Gue akan menulis yang terjadi hari ini, yang berhubungan
dengan Re-.
Tadi pelajaran mat mencatat bahan baru. Karena mata gue
susah ngeliat, ditambah tulisannya kecil-kecil, gue berinisiatif pindah ke
tempat duduk yang lagi nulis di papan. Kebetulan sebelahnya temen gue. Gue
belum selesai mencatat, tapi yang nyatet di depan ini udah selesai. Dia kan
anak yang suka ngelucu di kelas, jadi gue rada di ‘bully’. Dia malah nanya-nanyain gue tentang buku dia yang
berserakan di meja. Dia buka halaman pertama dan nanya ke gue ‘ini buku apa?’
‘sejarah’ Ini buku apa?’ ‘geografi’ gitu terus sampe ketemu buku pr mat. ‘nah
ini dia pr mat. Tapi bukan ini yang seharusnya ada di atas meja gue. Kenapa lu
keluarin semua buku ini?’ gue komat-kamit karena bukan gue yang ngeluarin. Lalu
dari belakang seorang anak nyeletuk ‘lu kaya Re- tau’ ‘apa’ ‘Re- Re- yang OSIS
dulu, OSIS yang dulu yang jadi mentor tapi bukan kelas kita’ kebetulan yang
angkatan di bawah gue panggilannya bukan mentor tapi tutor. Temen sebelah gue
yang juga uda tau tentang Re- senyam-senyum sambil nanya ‘yang itu ya’ hihihi
gitu.
November nanti sekolah gue akan mengadakan acara musikal 2
tahunan sekali. Temen-temen gue kayanya ga mau ikut. Nyokap juga ga ngasih
respon baik. Gue pengen nonton, karena berharap kesetiaan Re- akan SMA-nya
masih belum padam dan sukur-sukur bisa ketemu. Kalo berharap sampe duduk di
sebelahnya mungkin terlalu berlebihan ya. Kalau mau lebih berlebihan lagi sekalian
aja waktu duduk di sebelahnya, sesekali Re- mengomentari musikalnya yang
ditujukan ke gue. Atau nanya-nanya anak yang main yang mungkin dia lupa. Ini
kayanya udah mencapai ketinggian kahyangan tempat para dewa tinggal deh. That’s
all for these 2 weeks.
Jumat, 27 Juli 2012
26 Juli 2012
Kamis, 26 Juli 2012
Gue ga tau mau nulis apa. Sebenernya waktu awal liburan gue
sempat bertekad untuk menulis cerpen setidaknya 1 buah dalam seminggu. Terutama
cerpen mini. Sampai 2 minggu usai liburan, hanya 1 yang gue kerjain. Udah gue
kirim ke satu majalah perempuan muda lewat e-mail, tapi biasa, ga ada
tanggapan. Gue berharap kalaupun akhirnya cerpen mini gue itu sempat di cetak,
mereka dapat menginformasikan gue lewat e-mail. Dengan matre gue berharap dapat
ongkos nulis itu. Dari pada mereka nyetak nama gue gede-gede. Gue malah bakal
ga enak kalau begitu. Harapan gue dengan dapat honor dari nulis kecil itu, gue
bisa membeli buku. Bukan menghias wajah atau penampilan, hasilnya pasti akan
gue gunakan untuk mengkinclongkan otak. Logikanya, kalau gue bisa beli banyak
buku dengan uang hasil keringat gue sendiri, buku yang sudah selesai gue baca
kan pasti sisa mayatnya tuh. Buku bekas yang bukan majalah atau koran pasti
jauh lebih berharga daripada tas bermerk yang bekas bagi anak-anak di luar
sana. Kalo gue jadi anak yang ga bisa sekolah, so pasti buku itu kaya sorga
gue. Gue emang butuh tas, tapi jika dengan buku gue bisa bekerja lebih layak,
gue bakal mampu membeli tas bermerk yang baru. Tentu ini belum gue realisasikan
dengan membagikan buku gue ke anak-anak yang tidak mampu. Mungkin jika gue
kaya, gue akan bangun perpustakaan gratis buat anak-anak. Sekalian buat
nongkrong sambil baca buku. Ensiklopedia untuk anak-anak, dan novel detektif
untuk remaja. Kenapa gue milih begitu, karena waktu anak-anak gue suka baca
ensiklopedia dan sekarang gue suka novel detektif. Novel biasa juga suka kok.
Keuntungan gue karena rajin membaca ensiklopedia sejak kecil sangat membantu
gue dalam berbagai pelajaran selama SD sampai SMP. SMA sih uda ga kepake. Di
ensiklopedia memuat istilah asing yang akan membuat kita familiar saat
pelajaran IPA. Makanya nilai IPA gue di SD ga merah. Iyalah SD gitu. SMP juga.
Terutama biologi. Gatau kenapa waktu SMP gue jago ngapal. Ga kaya sekarang yang
lemot banget. Cuma intermeso, bukan ini semua yang terjadi hari ini.
Selasa depan temen deket gue ulangtahun, dan dia barusan
cerita bahwa kakaknya menghadiahkannya sebuah Blackberry™. Setelah ia menerima hadiah itu, gue
akan jadi satu-satunya anak dari kami ber-7 yang ga pake ponsel dengan merk
itu. Gue emang berencana akan memperbaharui ponsel gue, tapi dengan merk yang
beda. Samsung atau Sony. Itu baru incaran gue. Bagi gue, android udah paling
keren. Gue tau ini melanggar etika penulis ketika gue terkesan memuji yang satu
dan meninggalkan yang lain. Tapi ini kan catatan harian gue. Ralat, catatan
kapan-kapan.
Sabtu, 21 Juli 2012
After a Long Time
Rabu, 18 Juli 2012
Hari ini sih tanggal segitu, tapi banyak yang mau gue
ceritain, terutama tentang Re-. Gue emang akhirnya tau universitas tempat Re-
akan menimba ilmunya beberapa tahun ke depan. Lalu kemarin, guru PKn gue
berceloteh panjang lebar dan tanpa gue kira Re- mengambil bagian dalam cerita
guru itu. Re-, memiliki kesulitan finansial dalam beberapa waktu terakhir
karena ayahnya yang sakit. Ia berjuang keras, agamanya juga kuat. Re- bahkan
mencapai kota tempat universitasnya itu dengan bantuan teman-temannya. Hasil
UAN-nya, merupakan ketiga terbaik dari kelas IPA. Sesekolah atau se-DKI gue ga
yakin. Resenya, karena gue mengucapkan sepatah kata pada teman sebangku gue dan
dia ga jelas apa yang gue maksud, gue malah melewati penjelasan guru ekskelusif
tentang Re- dengan menjelaskan perkataan ga jelas gue. Itu bener-bener bodoh.
Sekarang gue sedang dipusingkan dengan masalah uang. Ya,
uang memang ga pantas untuk jadi masalah, tapi ini juga soal hubungan
pertemanan kami. Gue di satu sisi sangat membenci sikap Yul yang sangat sok
tau. Ceritanya, biar ga lama, kami bertiga membeli kaus kaki dan kertas ulangan
bersamaan. Gue dan Yul kertas ulangan dan kaus kaki. Sementara satu lagi kaus
kaki doang. Gue sudah menghitung dari rumah bahwa semuanya cukup. Usai
menghitung, gue menyerahkan uang sejumlah Rp. 22.500 dengan asumsi kaus kaki
seharga 15 ribu dan kertas ulangan seharga 7.500. Ternyata kaus kaki harganya
14 ribu dan kertas ulangan harganya 8 ribu. Otomatis gue harus menerima kembali
500 rupiah gue. Bukannya di kasih tuh gopek, sama Yul gue malah di tuduh hanya
menyerahkan uang 7 atau 8 ribu. Jelas gue bingung dan ga bisa ngomong apa-apa.
Bukannya gue lemah, Yul mengatakannya seakan-akan dia melihat langsung dan tahu
segalanya tanpa memperhitungkan gue sebagai seseorang yang melakukan apa yang
gue lakukan. Harusnya memang yang paling tahu gue. Akhirnya tadi gue sms temen
gue yang satu ini rincian uang yang gue kasih. Gue tau gue ga bakal dapat hak
gue yang berupa uang 500 rupiah itu. Gue sangat ingin bilang bahwa gue sama
sekali ga hutang sama ni anak. Tapi tentu gue juga ga enak terlalu perhitungan.
Seakan-akan gue adalah anak yang sangat pelit. Keluar dari koperasi, teman satu
SMP gue melihat gue yang bengong lalu bertanya. “Kenapa lu? Kaya abis keilangan
uang.” 100! Gue kehilangan uang sebesar 14.000 di pikiran Yul, dan harus
membayar dengan uang yang nyata. Gue berpikir untuk menyembunyikan ini dari
orang tua gue, tapi baru aja gue ceritain semuanya. Lu boleh bongkar otak gue.
Ga pernah terlintas sekalipun buat gue nilep uang temen gue. Itu bener-bener ga
seberapa. Gue sendiri ga kekurangan uang jajan kok. Temen gue ini juga rasanya
jadi rese. Meski itu karena dia ga tau. Gue masih inget banget, ketika hujan
deras tuh anak bilang kalau dia ga ada uang 2ribuan buat bayar angkot. Gue
menawarkan untuk bayarin dia dengan uang 5000an. Gue bilang ke dia, gantinya
besok aja bayarin gue angkot. Jujur aja sampe sekarang gue ga nagih dan ga
ngungkit-ngungkit sama sekali. Maksud gue sih baik ga perhitungan. Tapi ga
cincai sampe 14 ribu juga sih. Gue bukan orang yang dermawan. Gue itu orang
yang pelit. Yul sendiri ga mikir maen nuduh aja. Gue juga ngitung duit gue
kali. Yah kalo ga lu pake nurani dikit dong. Apa iya gue akan membiarkan temen
gue bayarin keperluan sekolah gue? Apa menurut lo gue tipikal orang begitu? Lo
salah. Lo bener-bener ngelukain gue. Dari lama gue sudah sangat menyadari bahwa
meski gue melihat dengan mata kepala gue sendiri, gue pertama-tama akan
mengungkapkannya sebagai pendapat. Karena dari pengalaman, fakta bukanlah
segala yang lo liat. Gue bingung bagaimana Yul bisa sangat yakin dengan apa
yang tidak dia lakukan sendiri. Ini juga ga setengah luput dari perhatian gue,
karena dari pagi gue udah ngitung semua harga dengan keadaan dompet yang memang
udah pas banget. Harusnya ada kembali gopek, gue malah dituduh utang belasan
ribu. Semakin gue nulis, seakan semua salah Yul. Andai gue lebih tegas bilang
bahwa uang yang gue serahkan itu 22.500. Gue udah tegas tapi harus lebih tegas
lagi. Lalu apa gue harus membayar apa yang udah gue bayar seperti orang bodoh?
Gue masih inget sampe sekarang, keadaan dompet gue di pagi hari ini. 4 lembar
uang 5000an, 1 selipan 10.000an, 3 lembar 2000an, dan 1 keping uang lima
ratusan. 8.000 gue gunain buat beli makan di kantin dengan minum temen gue
2000. 2000 buat sumbangan guru gue yang baru melahirkan. 22.500 gue serahin ke
temen gue, lalu temen gue ini mengembalikan 2000 yang tadi pagi ia pinjam. Lalu
Yul meminta 2000an gue 2 lembar yang ia tukar dengan selembar 5000an, sebagai
pembayaran hutang seribunya kemarin. Gue bayar angkot dengan 5000an lalu
dikembalikan supir angkot 3 ribu rupiah. Uang itu gue letakkan di kantong depan
tas gue, dan kini dompet gue kosong. Kurang melarat apa gue. Dengan
memperhitungkan sifat gue yang pelit, harusnya mereka meragukan kesalahan gue
menghitung anggaran belanja dalam dompet gue. Buat Yul, gue sangat menyesali
sikap lu. Sangat.
Kesannya gue sangat matre dengan membahas uang yang ga
seberapa dalam berlembar halaman. Masalah terbesar adalah itu bukan uang gue.
Yang dihilangkan Yul dalam pikirannya bukan uang gue, dan yang menurut Yul
harus gue bayar juga bukan dengan uang gue. Uang orang tua gue. Memikirkan
pengorbanan orang tua gue yang mengalami beberapa perubahan karena kerja keras
itu bikin gue bertekad dalam hati untuk menggunakan uang mereka sebaik-baiknya.
Gue sayang orang tua gue. Dan ga merasa harus membayar yang bukan kesalahan gue
dengan uang mereka. Ini ga adil. Apalagi gue udah membuat mereka kecewa banget
karena gue masuk IPS.
Oh ya, hari pertama masuk sekolah, ternyata anak kelas 10
yang baru mencapai hari terakhirnya di masa orientasi. Seperti tahun lalu,
pentas seni, pembawa acara, nominasi, lagu-lagu semua seperti mengulang tahun
lalu. Ketika gue tampil di atas panggung itu, ketika Re- menjadi pembawa acara,
ketika Re- memenangkan 2 kategori nominasi (terganteng dan tertegas), lagu yang
sama di nyanyikan mantan kelas gue dengan lirik yang beda. Kelas gue yang dulu,
mengubah lirik lagu dengan menyelipkan Re- diantaranya. “Kata orang, ku mirip
kak Re-.. Suara jantan, wanita jatuh pingsan..” begitu penggalannya. Gue rasa
kalian tau lagu apa itu. Oke, kalau ada anak sekolah gue yang melihat ini, saat
itu juga gue sudah teridentifikasi. Siapa Re- dan siapa gue. Semuanya,
sayonara.
Sabtu, 21 Juli 2012
Hari ini gue janjian sama temen satu SMP gue buat ngikut acara suatu bank berupa nonton Batman terbaru secara premier di salah satu bioskop di pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Pusat yang terbilang besar. Ortu gue menganggap ini kencan dan gue males untuk mengklarifikasi. Toh mereka bercanda doang. Memang udah kaya pacaran sih. Temen SMP gue ini cowok dan dia bersama kakak perempuannya serta pacar kakaknya temen gue ini. Kayak double date tapi gue cuma temenan sama nih anak. Hubungan kami tidak mengarah ke sana sama sekali. Dari pihak gue maupun dia tidak pernah mencoba menggiring kami ke status itu. Dia terlalu asik buat dijadiin pacar. Dapat dipastikan kalau gue sama sekali tidak memiliki perasaan ‘itu’ ke temen gue, karena sepanjang di mal itu, gue minimal udah 2 kali ngeliat orang mirip Re-. Setiap orang berambut jabrik pake kacamata. Ada yang lebih gemuk, ada yang rambutnya aneh, ada yang tangannya berotot, banyak deh bedanya. Tapi ga gue pungkiri beberapa kali mereka tampak mirip sampe gue ngeliat untuk kedua kalinya buat memastikan apa itu Re-. Setiap gue melihat mereka untuk kedua kalinya, dalam hati gue berharap bahwa Re- belum berangkat ke Jogja dan tepat berada di sana. Tapi memang itu bukan Re-.
Sabtu, 30 Juni 2012
Mimpi (lagi)
Kamis, 21 Juni 2012
Semalem gue mimpi! Bukan tentang Re-. Ini tentang Oni.
Mimpinya panjang, dan cerita awalnya ga bisa gue ceritain,
karena kapayahan otak gue. Pokoknya suasana kelas baru itu seperti pertokoan di
Mangga Dua, cuma ini sederet paling 2 toko. Gue pergi ke tempat lain dulu
karena kaget setelah melihat adik temen gue yang masih kecil merokok. Gue pergi
ke satu anak dan parahnya gue lupa siapa dia. Balik-balik gue sadar gue uda
telat di hari pertama gue sekolah. Melihat ke satu kelas, itu guru BI gue kelas
10. Oh, pelajaran pertama gue olah raga. Gue ke kelas sebelahnya. Gue
mencari-cari, lalu Oni keluar dan memberikan secarik kertas kecil. Gue
mengetahui itu sebagai tugas pertama yang harus di lakukan. Menggambar beberapa
orang yang di tentukan. Gue tahu tugas itu bener-bener ga ada hubungannya sama
olah raga, tapi itulah kenyataannya. Eh, mimpinya. Balik ke mimpi gue, gue
menerima kertas pekerjaan Oni dengan terisak lalu menangis keras karena
terharu. Karena sedih bahwa gue ga akan melihat dia lagi dalam keseharian di
sekolah. Gue ga bisa diskusi soal fisika lagi. Gue ga bakal di ikutin dia lagi
ke toilet. Ga akan ada yang mengetuk-ngetuk pintu kabis toilet saat gue di
dalamnya. Ga ada lagi anak yang mengenalkan gue pada lagu barat yang sedang nge-trend.
Gue bener-bener ga boong. Beberapa hari setelah ia mengenalkan gue pada satu
lagu, temen-temen sekelas akan beramai-ramai menyanyikannya, TV juga memutarkan
pada siarannya. Ga ada lagi wanita yang bersuara paling keras di kelas. Ga ada
lagi anak yang mampu menghadapi kemarahan kakak kelas. Anak itu, Oni. Setahun
bersama gue yakin gue akan merasa kehilangan. Dia yang membantu gue bergaul.
Dia yang sempat gue iri-in karena lebih dekat dengan anak-anak sekelas. Bahkan
gue sempet berpikir bahwa Tha, seorang yang dulu pernah gue sebut-sebut yang
akhir-akhir ini bersikap baik padaku itu adalah pintaan Oni. Tha yang merasa
aneh dengan perilaku gue lalu di jawab Oni dengan membela gue habis-habisan.
Bahkan menyarankan gue untuk bersikap baik pertama terhadap gue. Atau Oni
menyadari rasa iri gue saat dia bersama Tha lalu dengan sesuatu yang tidak gue
duga Tha beralih ke gue. Well, itu
cuma bayangan gue. Tapi memang mencurigakan sih, soal Tha yang ramah itu.
Oni yang merendahkan dirinya, menghadapi gue yang sering
sensitif ga ketulungan. Marah pada hal-hal kecil, ngambek pada suatu yang
sepele. Egois, pemarah, selalu mau menang sendiri itulah gue. Tepatnya gue
terhadap Oni. Banyak hal yang gue sesali telah melakukannya kepada Oni. Tapi
bahkan rasanya terlalu drama buat gue bilang hal-hal semacam itu pada Oni. Gue
mengakui gue banyak melakukan kesalahan. Banyak melakukan yang tidak seharusnya
gue lakukan, kepada teman yang baik buat gue. Ini terlalu cepat buat
perpisahan. Gue bahkan ga bisa menebusnya dengan melakukan hal-hal yang baik
kepadanya setahun kedepan. Gue mungkin pernah menyesal telah memberitahukan
soal Re- kepada Oni, dan bahkan mengatakan kepadanya bahwa aku melakukannya
dengan terpaksa. Oke, gue jahaatttt banget. Gue sama sekali ga menganggap dia teman
terdekat. Meski begitu, dari antara semua teman gue yang lain, hanya dengan Oni
gue mampu memuji-muji Re- secara nyata. Bukan hanya lewat tulisan semata yang
ga di baca siapapun. Bahwa Re- itu keren, kayanya dia yang pertama denger dari
mulut gue. Kalo mulut gue ga terlalu rancu dan ga merasa ini terlalu lesbian,
gue mau bilang ke Oni bahwa berbahagialah karena dia yang pertama tahu bahwa
gue menyukai Re-, selain Tuhan, gue, dan otak gue sendiri. Mungkin bagi lo ini
ga berarti. Tapi kalau nanti gue menyukai seseorang lagi, apa lo mau tau lagi?
Kata sebuah drama Korea yang lumayan anyar, kenangan adalah sebuah media
bersama orang yang kita inginkan. Apabila kenangan itu tidak ada, kita tidak
akan bersama dengannya selamanya. Gue ga tau apa yang akan Oni lakukan terhadap
kenangan gue dengannya. Mungkin baginya ini pahit dan ga pantas di kenang. Dia
hanya mengenang kelas 10 tanpa gue. Tapi bagi gue, setahun itu waktu yang cukup
banget, buat gue sayang sama lo. Lo udah hampir nyaingin Re- dengan membuat gue
menulis tentang lo satu setengah halaman a4. Meski temen-temen sering merespon
negatif tentang lo, gue tetep sayang sama lo. Sama dengan Jae. Gue hanya tidak
suka dengan cara gue. Jalan gue. Bukan lewat gosip yang beredar tentang lo,
tapi dengan pengalaman gue. Tapi ketidak sukaan gue bukan berarti gue membenci
kalian. Kalian teman terbaik gue di kelas 10. Kalian nyambung saat becanda
dengan gue. Menemani gue di sudut kelas. Tentu ini cuma diksi, karena pada
kenyataannya sudut kelas adalah tempat anak eksis.
Senin, 25 Juni 2012
Semalem gue mimpi lagi. Gue sendiri merasa bahwa gue tukang
mimpi. Entah sengaja maupun tidak.
Di sebuah tempat yang menurut gue sekolah, karena kami
mengenakan seragam, tapi suasanannya bukan di sekolah gue sekarang. Seperti
biasa, gue berjalan bersama Oni di samping gue. Lalu di depan kami berdiri Re-
dengan teman-temannya. Anehnya, di sana Re- sangat pendek sampai lebih pendek
dari gue. Ini bener-bener salah. Lanjut, di ujung jalan gue berhenti sebentar,
berharap Re- berjalan melewati gue. Tapi karena Re- ga lewat-lewat, gue
putuskan untuk melanjutkan berjalan. Sepertinya ia tengah mengurus ijazahnya,
begitu pikir gue di sana. Gue naik ke atas, ke ruangan yang gue tuju. Gue ga
yakin itu kelas karena lapangan olah raga sampai toilet ada di sana. Lebih
mengejutkan lagi, Re- udah duduk di sana. Entah gimana, gue akhirnya duduk di
deket Re-. Gue minum air mineral dengan mengangkat botolnya tinggi-tinggi.
Sampai di suatu topik Re- bicara, gue tanpa menurunkan botol itu dari
ketinggiannya melirik Re- dari atas. Kejadian itu berlangsung 2 kali. Lalu
mereka beserta gue pindah ke tempat lain. Tentu di sana gue bukan yang tidak
mengenal siapa-siapa. Ada seorang teman di samping gue meski gue ga tau siapa.
Atau gue merasa tidak asing di sana. Hal yang sama kembali terjadi. Kayanya
maksud gue begitu karena gue cuma mau lihat dia deh. Tapi Re- malah marah.
Tiba-tiba Re- duduk di tempat seperti meja guru dan duduk di sana tanpa
melakukan apa-apa. Pokoknya Re- marah. Teman dekat Re-, sebut saja putih menyuarakan
ketidaksetujuannya atas sikap gue. Mendapatkan segala tekanan, gue merasakan
sedih. Tiba-tiba di kenal oleh pujaan dengan cara yang tidak baik. Citra gue
juga buruk banget. Gue menatap Re- yang duduk di meja guru tersebut. Gue
merasakan dorongan untuk meminta maaf langsung kepadanya, tapi tentu keberanian
itu tidak ada. Gue galau sendiri menunggu waktu yang tepat ketika keberanian
itu datang. Tapi sebelum saat itu datang, gue keburu bangun.
Gue ga terlalu semangat dengan mimpi ini. Entah. Apa gue sudah
mengubur Re- tanpa gue sadari?
Langganan:
Komentar (Atom)
