Jumat, 27 Juli 2012

26 Juli 2012


Kamis, 26 Juli 2012

Gue ga tau mau nulis apa. Sebenernya waktu awal liburan gue sempat bertekad untuk menulis cerpen setidaknya 1 buah dalam seminggu. Terutama cerpen mini. Sampai 2 minggu usai liburan, hanya 1 yang gue kerjain. Udah gue kirim ke satu majalah perempuan muda lewat e-mail, tapi biasa, ga ada tanggapan. Gue berharap kalaupun akhirnya cerpen mini gue itu sempat di cetak, mereka dapat menginformasikan gue lewat e-mail. Dengan matre gue berharap dapat ongkos nulis itu. Dari pada mereka nyetak nama gue gede-gede. Gue malah bakal ga enak kalau begitu. Harapan gue dengan dapat honor dari nulis kecil itu, gue bisa membeli buku. Bukan menghias wajah atau penampilan, hasilnya pasti akan gue gunakan untuk mengkinclongkan otak. Logikanya, kalau gue bisa beli banyak buku dengan uang hasil keringat gue sendiri, buku yang sudah selesai gue baca kan pasti sisa mayatnya tuh. Buku bekas yang bukan majalah atau koran pasti jauh lebih berharga daripada tas bermerk yang bekas bagi anak-anak di luar sana. Kalo gue jadi anak yang ga bisa sekolah, so pasti buku itu kaya sorga gue. Gue emang butuh tas, tapi jika dengan buku gue bisa bekerja lebih layak, gue bakal mampu membeli tas bermerk yang baru. Tentu ini belum gue realisasikan dengan membagikan buku gue ke anak-anak yang tidak mampu. Mungkin jika gue kaya, gue akan bangun perpustakaan gratis buat anak-anak. Sekalian buat nongkrong sambil baca buku. Ensiklopedia untuk anak-anak, dan novel detektif untuk remaja. Kenapa gue milih begitu, karena waktu anak-anak gue suka baca ensiklopedia dan sekarang gue suka novel detektif. Novel biasa juga suka kok. Keuntungan gue karena rajin membaca ensiklopedia sejak kecil sangat membantu gue dalam berbagai pelajaran selama SD sampai SMP. SMA sih uda ga kepake. Di ensiklopedia memuat istilah asing yang akan membuat kita familiar saat pelajaran IPA. Makanya nilai IPA gue di SD ga merah. Iyalah SD gitu. SMP juga. Terutama biologi. Gatau kenapa waktu SMP gue jago ngapal. Ga kaya sekarang yang lemot banget. Cuma intermeso, bukan ini semua yang terjadi hari ini.

Selasa depan temen deket gue ulangtahun, dan dia barusan cerita bahwa kakaknya menghadiahkannya sebuah Blackberry™. Setelah ia menerima hadiah itu, gue akan jadi satu-satunya anak dari kami ber-7 yang ga pake ponsel dengan merk itu. Gue emang berencana akan memperbaharui ponsel gue, tapi dengan merk yang beda. Samsung atau Sony. Itu baru incaran gue. Bagi gue, android udah paling keren. Gue tau ini melanggar etika penulis ketika gue terkesan memuji yang satu dan meninggalkan yang lain. Tapi ini kan catatan harian gue. Ralat, catatan kapan-kapan.

Sabtu, 21 Juli 2012

After a Long Time



Rabu, 18 Juli 2012

Hari ini sih tanggal segitu, tapi banyak yang mau gue ceritain, terutama tentang Re-. Gue emang akhirnya tau universitas tempat Re- akan menimba ilmunya beberapa tahun ke depan. Lalu kemarin, guru PKn gue berceloteh panjang lebar dan tanpa gue kira Re- mengambil bagian dalam cerita guru itu. Re-, memiliki kesulitan finansial dalam beberapa waktu terakhir karena ayahnya yang sakit. Ia berjuang keras, agamanya juga kuat. Re- bahkan mencapai kota tempat universitasnya itu dengan bantuan teman-temannya. Hasil UAN-nya, merupakan ketiga terbaik dari kelas IPA. Sesekolah atau se-DKI gue ga yakin. Resenya, karena gue mengucapkan sepatah kata pada teman sebangku gue dan dia ga jelas apa yang gue maksud, gue malah melewati penjelasan guru ekskelusif tentang Re- dengan menjelaskan perkataan ga jelas gue. Itu bener-bener bodoh.

Sekarang gue sedang dipusingkan dengan masalah uang. Ya, uang memang ga pantas untuk jadi masalah, tapi ini juga soal hubungan pertemanan kami. Gue di satu sisi sangat membenci sikap Yul yang sangat sok tau. Ceritanya, biar ga lama, kami bertiga membeli kaus kaki dan kertas ulangan bersamaan. Gue dan Yul kertas ulangan dan kaus kaki. Sementara satu lagi kaus kaki doang. Gue sudah menghitung dari rumah bahwa semuanya cukup. Usai menghitung, gue menyerahkan uang sejumlah Rp. 22.500 dengan asumsi kaus kaki seharga 15 ribu dan kertas ulangan seharga 7.500. Ternyata kaus kaki harganya 14 ribu dan kertas ulangan harganya 8 ribu. Otomatis gue harus menerima kembali 500 rupiah gue. Bukannya di kasih tuh gopek, sama Yul gue malah di tuduh hanya menyerahkan uang 7 atau 8 ribu. Jelas gue bingung dan ga bisa ngomong apa-apa. Bukannya gue lemah, Yul mengatakannya seakan-akan dia melihat langsung dan tahu segalanya tanpa memperhitungkan gue sebagai seseorang yang melakukan apa yang gue lakukan. Harusnya memang yang paling tahu gue. Akhirnya tadi gue sms temen gue yang satu ini rincian uang yang gue kasih. Gue tau gue ga bakal dapat hak gue yang berupa uang 500 rupiah itu. Gue sangat ingin bilang bahwa gue sama sekali ga hutang sama ni anak. Tapi tentu gue juga ga enak terlalu perhitungan. Seakan-akan gue adalah anak yang sangat pelit. Keluar dari koperasi, teman satu SMP gue melihat gue yang bengong lalu bertanya. “Kenapa lu? Kaya abis keilangan uang.” 100! Gue kehilangan uang sebesar 14.000 di pikiran Yul, dan harus membayar dengan uang yang nyata. Gue berpikir untuk menyembunyikan ini dari orang tua gue, tapi baru aja gue ceritain semuanya. Lu boleh bongkar otak gue. Ga pernah terlintas sekalipun buat gue nilep uang temen gue. Itu bener-bener ga seberapa. Gue sendiri ga kekurangan uang jajan kok. Temen gue ini juga rasanya jadi rese. Meski itu karena dia ga tau. Gue masih inget banget, ketika hujan deras tuh anak bilang kalau dia ga ada uang 2ribuan buat bayar angkot. Gue menawarkan untuk bayarin dia dengan uang 5000an. Gue bilang ke dia, gantinya besok aja bayarin gue angkot. Jujur aja sampe sekarang gue ga nagih dan ga ngungkit-ngungkit sama sekali. Maksud gue sih baik ga perhitungan. Tapi ga cincai sampe 14 ribu juga sih. Gue bukan orang yang dermawan. Gue itu orang yang pelit. Yul sendiri ga mikir maen nuduh aja. Gue juga ngitung duit gue kali. Yah kalo ga lu pake nurani dikit dong. Apa iya gue akan membiarkan temen gue bayarin keperluan sekolah gue? Apa menurut lo gue tipikal orang begitu? Lo salah. Lo bener-bener ngelukain gue. Dari lama gue sudah sangat menyadari bahwa meski gue melihat dengan mata kepala gue sendiri, gue pertama-tama akan mengungkapkannya sebagai pendapat. Karena dari pengalaman, fakta bukanlah segala yang lo liat. Gue bingung bagaimana Yul bisa sangat yakin dengan apa yang tidak dia lakukan sendiri. Ini juga ga setengah luput dari perhatian gue, karena dari pagi gue udah ngitung semua harga dengan keadaan dompet yang memang udah pas banget. Harusnya ada kembali gopek, gue malah dituduh utang belasan ribu. Semakin gue nulis, seakan semua salah Yul. Andai gue lebih tegas bilang bahwa uang yang gue serahkan itu 22.500. Gue udah tegas tapi harus lebih tegas lagi. Lalu apa gue harus membayar apa yang udah gue bayar seperti orang bodoh? Gue masih inget sampe sekarang, keadaan dompet gue di pagi hari ini. 4 lembar uang 5000an, 1 selipan 10.000an, 3 lembar 2000an, dan 1 keping uang lima ratusan. 8.000 gue gunain buat beli makan di kantin dengan minum temen gue 2000. 2000 buat sumbangan guru gue yang baru melahirkan. 22.500 gue serahin ke temen gue, lalu temen gue ini mengembalikan 2000 yang tadi pagi ia pinjam. Lalu Yul meminta 2000an gue 2 lembar yang ia tukar dengan selembar 5000an, sebagai pembayaran hutang seribunya kemarin. Gue bayar angkot dengan 5000an lalu dikembalikan supir angkot 3 ribu rupiah. Uang itu gue letakkan di kantong depan tas gue, dan kini dompet gue kosong. Kurang melarat apa gue. Dengan memperhitungkan sifat gue yang pelit, harusnya mereka meragukan kesalahan gue menghitung anggaran belanja dalam dompet gue. Buat Yul, gue sangat menyesali sikap lu. Sangat.

Kesannya gue sangat matre dengan membahas uang yang ga seberapa dalam berlembar halaman. Masalah terbesar adalah itu bukan uang gue. Yang dihilangkan Yul dalam pikirannya bukan uang gue, dan yang menurut Yul harus gue bayar juga bukan dengan uang gue. Uang orang tua gue. Memikirkan pengorbanan orang tua gue yang mengalami beberapa perubahan karena kerja keras itu bikin gue bertekad dalam hati untuk menggunakan uang mereka sebaik-baiknya. Gue sayang orang tua gue. Dan ga merasa harus membayar yang bukan kesalahan gue dengan uang mereka. Ini ga adil. Apalagi gue udah membuat mereka kecewa banget karena gue masuk IPS.

Oh ya, hari pertama masuk sekolah, ternyata anak kelas 10 yang baru mencapai hari terakhirnya di masa orientasi. Seperti tahun lalu, pentas seni, pembawa acara, nominasi, lagu-lagu semua seperti mengulang tahun lalu. Ketika gue tampil di atas panggung itu, ketika Re- menjadi pembawa acara, ketika Re- memenangkan 2 kategori nominasi (terganteng dan tertegas), lagu yang sama di nyanyikan mantan kelas gue dengan lirik yang beda. Kelas gue yang dulu, mengubah lirik lagu dengan menyelipkan Re- diantaranya. “Kata orang, ku mirip kak Re-.. Suara jantan, wanita jatuh pingsan..” begitu penggalannya. Gue rasa kalian tau lagu apa itu. Oke, kalau ada anak sekolah gue yang melihat ini, saat itu juga gue sudah teridentifikasi. Siapa Re- dan siapa gue. Semuanya, sayonara.

Sabtu, 21 Juli 2012

Hari ini gue janjian sama temen satu SMP gue buat ngikut acara suatu bank berupa nonton Batman terbaru secara premier di salah satu bioskop di pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Pusat yang terbilang besar. Ortu gue menganggap ini kencan dan gue males untuk mengklarifikasi. Toh mereka bercanda doang. Memang udah kaya pacaran sih. Temen SMP gue ini cowok dan dia bersama kakak perempuannya serta pacar kakaknya temen gue ini. Kayak double date tapi gue cuma temenan sama nih anak. Hubungan kami tidak mengarah ke sana sama sekali. Dari pihak gue maupun dia tidak pernah mencoba menggiring kami ke status itu. Dia terlalu asik buat dijadiin pacar. Dapat dipastikan kalau gue sama sekali tidak memiliki perasaan ‘itu’ ke temen gue, karena sepanjang di mal itu, gue minimal udah 2 kali ngeliat orang mirip Re-. Setiap orang berambut jabrik pake kacamata. Ada yang lebih gemuk, ada yang rambutnya aneh, ada yang tangannya berotot, banyak deh bedanya. Tapi ga gue pungkiri beberapa kali mereka tampak mirip sampe gue ngeliat untuk kedua kalinya buat memastikan apa itu Re-. Setiap gue melihat mereka untuk kedua kalinya, dalam hati gue berharap bahwa Re- belum berangkat ke Jogja dan tepat berada di sana. Tapi memang itu bukan Re-.

Sabtu, 30 Juni 2012

Mimpi (lagi)



Kamis, 21 Juni 2012

Semalem gue mimpi! Bukan tentang Re-. Ini tentang Oni.

Mimpinya panjang, dan cerita awalnya ga bisa gue ceritain, karena kapayahan otak gue. Pokoknya suasana kelas baru itu seperti pertokoan di Mangga Dua, cuma ini sederet paling 2 toko. Gue pergi ke tempat lain dulu karena kaget setelah melihat adik temen gue yang masih kecil merokok. Gue pergi ke satu anak dan parahnya gue lupa siapa dia. Balik-balik gue sadar gue uda telat di hari pertama gue sekolah. Melihat ke satu kelas, itu guru BI gue kelas 10. Oh, pelajaran pertama gue olah raga. Gue ke kelas sebelahnya. Gue mencari-cari, lalu Oni keluar dan memberikan secarik kertas kecil. Gue mengetahui itu sebagai tugas pertama yang harus di lakukan. Menggambar beberapa orang yang di tentukan. Gue tahu tugas itu bener-bener ga ada hubungannya sama olah raga, tapi itulah kenyataannya. Eh, mimpinya. Balik ke mimpi gue, gue menerima kertas pekerjaan Oni dengan terisak lalu menangis keras karena terharu. Karena sedih bahwa gue ga akan melihat dia lagi dalam keseharian di sekolah. Gue ga bisa diskusi soal fisika lagi. Gue ga bakal di ikutin dia lagi ke toilet. Ga akan ada yang mengetuk-ngetuk pintu kabis toilet saat gue di dalamnya. Ga ada lagi anak yang mengenalkan gue pada lagu barat yang sedang nge-trend. Gue bener-bener ga boong. Beberapa hari setelah ia mengenalkan gue pada satu lagu, temen-temen sekelas akan beramai-ramai menyanyikannya, TV juga memutarkan pada siarannya. Ga ada lagi wanita yang bersuara paling keras di kelas. Ga ada lagi anak yang mampu menghadapi kemarahan kakak kelas. Anak itu, Oni. Setahun bersama gue yakin gue akan merasa kehilangan. Dia yang membantu gue bergaul. Dia yang sempat gue iri-in karena lebih dekat dengan anak-anak sekelas. Bahkan gue sempet berpikir bahwa Tha, seorang yang dulu pernah gue sebut-sebut yang akhir-akhir ini bersikap baik padaku itu adalah pintaan Oni. Tha yang merasa aneh dengan perilaku gue lalu di jawab Oni dengan membela gue habis-habisan. Bahkan menyarankan gue untuk bersikap baik pertama terhadap gue. Atau Oni menyadari rasa iri gue saat dia bersama Tha lalu dengan sesuatu yang tidak gue duga Tha beralih ke gue. Well, itu cuma bayangan gue. Tapi memang mencurigakan sih, soal Tha yang ramah itu.

Oni yang merendahkan dirinya, menghadapi gue yang sering sensitif ga ketulungan. Marah pada hal-hal kecil, ngambek pada suatu yang sepele. Egois, pemarah, selalu mau menang sendiri itulah gue. Tepatnya gue terhadap Oni. Banyak hal yang gue sesali telah melakukannya kepada Oni. Tapi bahkan rasanya terlalu drama buat gue bilang hal-hal semacam itu pada Oni. Gue mengakui gue banyak melakukan kesalahan. Banyak melakukan yang tidak seharusnya gue lakukan, kepada teman yang baik buat gue. Ini terlalu cepat buat perpisahan. Gue bahkan ga bisa menebusnya dengan melakukan hal-hal yang baik kepadanya setahun kedepan. Gue mungkin pernah menyesal telah memberitahukan soal Re- kepada Oni, dan bahkan mengatakan kepadanya bahwa aku melakukannya dengan terpaksa. Oke, gue jahaatttt banget. Gue sama sekali ga menganggap dia teman terdekat. Meski begitu, dari antara semua teman gue yang lain, hanya dengan Oni gue mampu memuji-muji Re- secara nyata. Bukan hanya lewat tulisan semata yang ga di baca siapapun. Bahwa Re- itu keren, kayanya dia yang pertama denger dari mulut gue. Kalo mulut gue ga terlalu rancu dan ga merasa ini terlalu lesbian, gue mau bilang ke Oni bahwa berbahagialah karena dia yang pertama tahu bahwa gue menyukai Re-, selain Tuhan, gue, dan otak gue sendiri. Mungkin bagi lo ini ga berarti. Tapi kalau nanti gue menyukai seseorang lagi, apa lo mau tau lagi? Kata sebuah drama Korea yang lumayan anyar, kenangan adalah sebuah media bersama orang yang kita inginkan. Apabila kenangan itu tidak ada, kita tidak akan bersama dengannya selamanya. Gue ga tau apa yang akan Oni lakukan terhadap kenangan gue dengannya. Mungkin baginya ini pahit dan ga pantas di kenang. Dia hanya mengenang kelas 10 tanpa gue. Tapi bagi gue, setahun itu waktu yang cukup banget, buat gue sayang sama lo. Lo udah hampir nyaingin Re- dengan membuat gue menulis tentang lo satu setengah halaman a4. Meski temen-temen sering merespon negatif tentang lo, gue tetep sayang sama lo. Sama dengan Jae. Gue hanya tidak suka dengan cara gue. Jalan gue. Bukan lewat gosip yang beredar tentang lo, tapi dengan pengalaman gue. Tapi ketidak sukaan gue bukan berarti gue membenci kalian. Kalian teman terbaik gue di kelas 10. Kalian nyambung saat becanda dengan gue. Menemani gue di sudut kelas. Tentu ini cuma diksi, karena pada kenyataannya sudut kelas adalah tempat anak eksis.

Senin, 25 Juni 2012

Semalem gue mimpi lagi. Gue sendiri merasa bahwa gue tukang mimpi. Entah sengaja maupun tidak.

Di sebuah tempat yang menurut gue sekolah, karena kami mengenakan seragam, tapi suasanannya bukan di sekolah gue sekarang. Seperti biasa, gue berjalan bersama Oni di samping gue. Lalu di depan kami berdiri Re- dengan teman-temannya. Anehnya, di sana Re- sangat pendek sampai lebih pendek dari gue. Ini bener-bener salah. Lanjut, di ujung jalan gue berhenti sebentar, berharap Re- berjalan melewati gue. Tapi karena Re- ga lewat-lewat, gue putuskan untuk melanjutkan berjalan. Sepertinya ia tengah mengurus ijazahnya, begitu pikir gue di sana. Gue naik ke atas, ke ruangan yang gue tuju. Gue ga yakin itu kelas karena lapangan olah raga sampai toilet ada di sana. Lebih mengejutkan lagi, Re- udah duduk di sana. Entah gimana, gue akhirnya duduk di deket Re-. Gue minum air mineral dengan mengangkat botolnya tinggi-tinggi. Sampai di suatu topik Re- bicara, gue tanpa menurunkan botol itu dari ketinggiannya melirik Re- dari atas. Kejadian itu berlangsung 2 kali. Lalu mereka beserta gue pindah ke tempat lain. Tentu di sana gue bukan yang tidak mengenal siapa-siapa. Ada seorang teman di samping gue meski gue ga tau siapa. Atau gue merasa tidak asing di sana. Hal yang sama kembali terjadi. Kayanya maksud gue begitu karena gue cuma mau lihat dia deh. Tapi Re- malah marah. Tiba-tiba Re- duduk di tempat seperti meja guru dan duduk di sana tanpa melakukan apa-apa. Pokoknya Re- marah. Teman dekat Re-, sebut saja putih menyuarakan ketidaksetujuannya atas sikap gue. Mendapatkan segala tekanan, gue merasakan sedih. Tiba-tiba di kenal oleh pujaan dengan cara yang tidak baik. Citra gue juga buruk banget. Gue menatap Re- yang duduk di meja guru tersebut. Gue merasakan dorongan untuk meminta maaf langsung kepadanya, tapi tentu keberanian itu tidak ada. Gue galau sendiri menunggu waktu yang tepat ketika keberanian itu datang. Tapi sebelum saat itu datang, gue keburu bangun.

Gue ga terlalu semangat dengan mimpi ini. Entah. Apa gue sudah mengubur Re- tanpa gue sadari?

Jumat, 15 Juni 2012

IPA? IPS?



Jumat, 8 Juni 2012

Karena ga ada makanan di rumah, kami sekeluarga berangkat ke tempat perbelanjaan terdekat. Untuk mencari makan. Di lobi, terdapat pameran perhiasan. Terkagum sebentar, ibu gue menyebut nama Re-. Gue rada terkejut. Ternyata itu nama satu merek perhiasan. Gue nanya, apa toko itu terkenal, atau perhiasannya bagus-bagus. Ibu gue cuma bilang bukan apa-apa. Gue mengajukan pendapat bahwa ia berkata begitu karena stand merek itu berdiri di depan toko yang sebenarnya. Ibu gue mengiyakan. Jadilah gue manfaatkan kesempatan itu dengan sangat maksimal untuk melafalkan nama Re- secara nyata dan agak lebai. Masalahnya selama ini gue ga enak nyebut nama itu secara gamblang di sekolah maupun dengan temen gue. Buat nyebut nama itu berulang-ulang sendirian juga rasanya aneh. Jadi lidah gue sangat puas rasanya. Re- Re- Re-.

Minggu, 10 Juni 2012

Semalem, gue mimpiin Re-.

Entah kenapa gue mimpi banyak banget. 3 hal. Atau 3 mimpi itu tiba-tiba teringat. Gue juga ga ngerti.

Satu. Gue menonton drama musikal dari sekolah yang pernah gue minati untuk menulis script-nya. Meski pada akhirnya gue batal berpartisipasi dalam penulisan. Di mimpi itu gue nonton, di tempat yang aneh. Rada goyang kaya mau jatuh. Serem ya.

Dua. Gue mimpiin seseorang yang mirip Yul. Di sana ia menjadi orang yang sangat sombong. Ia punya seruangan besar berisi wardrobe dan ia sangat bangga akan hal itu.

Tiga. Gue merasa mimpi ini yang pertama, tapi karena ini adalah yang terpenting menurut gue, gue tulis di bagian akhir. Walau hanya satu scene. Entah bagaimana ceritanya, Re- menggoda gue sekali waktu. Menjahili gitu loh. Lalu seperti respon kebanyakan, gue cuma bilang ‘apa sih’ gitu. Sementara temen-temen gue udah pada nyorakin gue ‘cie cie’. Sebuah keadaan yang bener-bener ga bisa di bilang masa depan. Lead pernah bercerita bahwa dulu ia sempat bermimpi ia berada di sebuah sekolah berisi siswa-siswa yang tidak ia kenal. Sampai waktunya ia masuk SMA, ia sadar bahwa yang ia mimpikan waktu itu adalah teman-teman kelasnya yang baru ia kenal. Gue sama sekali ga punya kemampuan, dan terlalu jauh dari kenyataan. Gue ga kenal Re- secara resmi.

Mungkin terbersit pertanyaan. Mengapa tulisan gue isinya ga jauh-jauh dari mimpi? Sepertinya karena gue ga bisa memiliki kenyataan yang gue inginkan. Gue mencoba memilikinya lewat mimpi.

Gue kadang mengagumi seorang penulis cerita. Terutama film. Cerita itu sendiri dibuat dari segala kemungkinan yang muncul di otak penulisnya. ‘What if’ itu kata kuncinya. Penulis cerita memikirkan segala yang bisa saja terjadi. Jika bumi ini tidak mampu membuatnya nyata, ia membuat bumi baru yang memungkinkan segala yang terjadi dalam pikirannya. Menjadi ‘tuhan’ bagi fiksinya. Menentukan nasib tokoh-tokohnya. Membuat segala alur hingga tampak seperti yang seharusnya terjadi. Merancang setiap detil dunianya.

Jumat, 15 Juni 2012

Hari ini gue bagi rapot. Sekaligus penyaringan IPA dan IPS. Mungkin ga banyak yang terjadi. Tapi rasanya ini kaya mimpi. Gue beberapa kali bengong, ga yakin akan kenyataan.

Gue berangkat tanpa rasa takut. Gue merasa semuanya sama seperti yang terjadi sejak SD. Di takutin lah, tapi akhirnya gue naek dengan aman. Tapi gue gentar, mulai masuk wilayah sekolah. Gue nulis catetan di luar kelas, menyatakan bahwa gue di antrian ke 23. 2 anak kelas gue, salah satunya Lee menghampiri gue. Mereka ribut menyatakan bahwa kelas kami meninggalkan 5 anak di kelas 10. Mau ga mau gue gemeteran, pasalnya gue yang ke 23 dari 28. Pikiran gue yang sempit menyatakan bahwa dari sisa itu 5 di antaranya tinggal kelas. Gue melewatkan bahwa yang tinggal kelas sudah di telepon hari sebelumnya. Mereka terus menyebutkan nama Oni sebagai salah satunya. Gue sih ga percaya abis kalo Oni sampe salah satu di antara 5 anak itu.

Masuk-masuk, gue di tenangkan dengan pernyataan bahwa gue naik. Lalu wali kelas gue menyerahkan keputusan IPA atau IPS ke tangan gue. Ya, beliau membebaskan gue memilih sementara yang lain hanya tinggal menerima. Selingan aja, temen gue yang di kelas sebelah dari awal memilih IPA sebagai jurusannya. Tapi keputusannya ia harus masuk IPS. Bahkan ia sudah meminta kepada wali kelas untuk pertolongan. Tapi nihil. Di sisi lain gue boleh memilih. Gue merasa terlalu di istimewakan. Gue mengkakhiri dengan IPS. Kakak dan nyokap gue terus membujuk gue untuk membatalkan dan memilih IPA. Mereka bilang, bila gue milih IPS gue bakal nyesel. Gue emang ga terlalu suka pelajaran IPS, tapi bukan berarti IPA lebih baik. Gue sendiri menyimpulkan alasan wali kelas gue menyerahkan keputusan ke tangan gue adalah karena nilai gue standart semua. Gue tidak memiliki berat di IPS atau IPA. Menjadi penolakan besat gue masuk IPA adalah karena gue merasa ga kuat. Mungkin guru dan keluarga gue merasa gue mampu untuk mengerti semuanya. Berdasarkan nilai, gue sih ga terlalu kurang. Yang jadi protes besar gue adalah nilai itu palsu. Dongkrakan abis. Biologi gue, dari awal gue masuk sekolah ini, nilainya ga pernah lebih dari 70, yang adalah KKM(tau kan singkatannya). Itupun ga semuanya dapet 70, sisanya ada yang 65, 50, dan yang terakhir mencapai 33. Nilai kimia gue sempat hancur di semester pertama, meski di semester 2 gue mengalami banyak sekali peningkatan. Bukan karena gue semakin mengerti atau rajin belajar. Kepala sekolah bahkan mengakui meski tidak menyebut merek, bahwa guru kimia sudah menurunkan standart penilaian. Maksudnya soal ulangan. Gue sangat merasa tingkat kesusahan soal Kimia jauh menurun dari semester 1. Bukannya gue merasa kemampuan gue sangat hebat. Kami sering ribut dari semester 1 bahwa soal Kimia menggunakan angka yang sulit. Sangat sulit. Akhir-akhir ini, gue mendapati bahwa soal ulangan ga jauh beda dengan soal latihan. Angka yang mudah. Kecil dan bulat. Dia jauh menurunkan tingkat kesulitan soal. Apalagi Fisika. Mengapa dari awal gue merasa di jorokkin ke IPA? Gue inget banget. Ulangan vektor, yang mana gue ngaku ga bisa, hasilnya 70. Gue ga remedial. Gue merasa ga bener-bener menguasai. Sisanya ulangan fisika gue ga jauh dari 70. Meski begitu, ulangan terakhir yang mengenai suhu & kalor gue memperoleh 30 sebagai hasilnya. Bukan gue salah 7, tapi itu cuma ongkos nulis. Artinya? Gue salah semua. Tau berapa yang tertera di rapot untuk nilai Fisika? 78. Matematika? Trigonometri gue dapet 75. Coba tanyain gue sekarang tentang pengerjaannya. Gue ga bakal bisa jawab. Logika matematika tentang penarikan kesimpulan di ujikan dengan 3 soal. Terpengaruh dengan bocoran kelas sebelah bahwa jawabannya adalah sah-tidak sah-tidak sah gue berkeras menjawab soal dengan urutan seperti itu. Bukan karena gue ga percaya diri. Sampe mau ulangan pun, engga. Sampe sekarangpun, gue ga ngerti cara pengerjaannya. Modus tollens lah, modus silogisme dll. Keluar-keluar, pada ngebahas soal itu dan sebagian besar menjawab sah-tidak sah-sah. Bahkan yang terpinter di kelas. Bukan soal terpinter atau engga. Kayanya gue doang yang jawabannya sah-tidak sah-tidak sah sekelas gue.

Mencoba membantu gue menentukan keputusan, guru gue mengarahkan dengan bertanya jurusan kuliah yang gue inginkan. Yang pasti bukan tentang IPA., gue bilang. Beliau melanjutkan dengan berkata bahwa pilih jurusan yang pelajarannya kusukai. Gue mikir dan tidak menemukan pelajaran itu. Gue ga suka semua pelajaran. Tentu gue cuma dalam hati. Yang gue suka itu baca novel. Soal ilmu alam, gue hanya menganggapnya menarik, sama sekali ga buat jalur hidup gue. Akhirnya wali kelas gue menyerahkan surat daftar ulang yang beliau suruh gue bawa dengan isinya besok. Gue memfotokopi rapot gue dulu. Lalu menentukan jurusan IPS, gue mengisi surat dan membawanya ke ruang guru di lantai tiga. Sementara berlari ke atas, di pertengahan tangga seperti biasa gue mengintip ke foto Re-. Gue menyadari satu hal yang besar. Ke IPS berarti berpisah dengan Re-. Tentu dengan masuk IPA gue ga bersama dengan Re- dalam arti yang harafiah. Bersama dengan dia gue maksudkan dengan mendengar apa yang sudah ia dengar. Melakukan hal-hal yang sempat ia lakukan. Mempelajari semuanya, dengan bahan yang pernah Re- pelajari. Dengan begitu gue bakalan tau apa yang Re- tau, setidaknya tentang ilmu alam yang dia timba di SMA. Gue ga bakal bisa nyusul jurusan Re- di kampus, kalo dia masuk kuliah jurusan IPA. Gue ga bisa jadi juniornya lagi. Gue ga bisa.

Gue basa-basi dikit dengan wali kelas gue dengan bertanya jurusan yang Oni ambil. Wali kelas gue terdiam sebentar lalu menjawab dengan tenang bahwa Oni tidak naik kelas. Gue bener-bener ga nyangka, seperti yang gue tulis tadi. Sebagai 2 manusia yang kerap bersama, gue membandingkan nilai gue dengan dia. Ga jauh beda. Bahkan jumlah nilai merahnya dengan gue waktu rapot bayangan semester 2 sama. 14. Meski akhir-akhir ini nilai Oni agak mengejutkan. Maksud gue, gue bahkan ga pernah membayangkan hal itu akan terjadi ke dia. Dia orang yang bersemangat banget untuk masuk IPA. Nilai semester 1 nya tidak begitu buruk. Ga sekali dua kali nilai gue kalah. Nilai sosiologi dia malah lebih tinggi. Gue merasa sedikit aneh. Bukan, gue merasa banyak keanehan dalam peristiwa yang menimpa Oni. Semalem tepatnya pukul 7 malam dia nelpon ponsel gue. Wali kelas gue menyatakan bahwa Oni sampai menangis saat di panggil. Wali kelas gue menyatakan bahwa keluarga Oni merupakan keluarga yang rumit. Oni juga sedikit mengalami tekanan karena kakaknya yang berprestasi. Dengan seluruh bebannya, gue sama sekali ga melakukan apa-apa. Bukannya gue ga mau, dari awal semester sampai ulangan umum pun, ga pernah sekalipun dia menceritakan detail keadaan rumahnya. Ibunya, bibinya, kakaknya, saudaranya, dan lain-lain. Dari semua yang ia kisahkan pada gue, gue yang awalnya rada curiga merasa semuanya baik-baik saja. Gue juga ga enak buat jadi orang yang entah terlalu ikut campur atau orang yang peduli sahabatnya. Kalau kejadiannya sampai ia menangis di depan wali kelas dan bukan gue sebagai teman terdekatnya sepanjang kelas 10 ini, berarti gue memiliki andil sangaat besar dalam kegagalannya.

Satu hal yang bikin gue merasa sebagai jimat berkekuatan negatif. Gue di kelas 10, punya beberapa anak yang menjadi anggota tetap bila ada pembentukan kelompok. Gue, Oni, Jae. Dulu satu anak cowo yang mungkin pernah gue buatin nama samarannya lumayan deket. Ia sering menjadi kawanan kami, meski tidak selalu. Kami berempat, bersama anak cowo itu bercanda bersama. Kadang sangat lucu sampai tidak bisa bertahan lagi. Anak cowo ini sebut aja Es deh. Oni dan Es kerap mengkompetisikan kemampuan logika masing-masing. Mereka memiliki kemampuan di bidang ilmu alam. Banyak kesempatan ketika pelajaran IPA membuka materi baru, gue ga ngerti. Mereka berdua bergantian mengajari gue sampe ngerti. Sampe di ulangan, beberapa kali gue mendapat nilai yang bagus, sementara mereka tidak. Maksudnya ga sebagus gue. Gue dituduh menyerap ilmu mereka. Gue juga ga ngerti gimana bisa. Tapi kalo gue bilang ga ngerti, berarti gue emang ga ngerti.

Kembali ke topik. Alasan gue merasa menjadi jimat jahat adalah fakta bahwa Jae, Oni, dan Es tinggal kelas. Gue cerita ke temen SMP gue, dan dia bilang bahwa gue parah, mampus banget. Apa gue memang penyerap kemampuan orang? Jae, tahun depan akan merayakan ulang tahunnya yang ke 18 di kelas 10. Gue ga tau mau ngomong apa. Soal Es, dari jauh-jauh hari dia sudah merencanakan pindah ke sekolah internasional. Oni, yang gue denger dari wali kelas gue di pindahkan ke SMK oleh bibinya.




Waktu nulis ini, gue menyadari sesuatu bahwa seorang temen Re- yang sering gue ceritakan itu mendapat perlakuan yang sama dalam penjurusan di kelas 10. Ia sebenarnya masuk IPA, tapi ia memilih IPS. Ga sama sih, mirip. Kalau gue, bener-bener di bebaskan.