Senin, 13 Januari 2014

Late Post :p



Sabtu, 26 Oktober 2013

Gue kembali, tanpa pencerahan. Makin kusut iya.

Setelah memperjuangkan Surya University sampai tetes-tetes air mata, gue kembali mempertimbangkan akuntansi biasa di universitas yang berletak di Grogol. Baru aja gue seneng abis karena kedua orang tua gue ‘membiarkan’ gue masuk Surya. Dan nyokap gue kembali menyatakan dukungannya untuk gue memilih yang gue mau, meskipun ga ada satu suarapun keluar dari bokap gue.

Tapi emang dasar ibu, kata-kata dia kembali membuat gue berpikir. Lulusan akuntansi, meskpun gue hina karena banyaknya sebanyak ikan di laut, tapi banyak diperlukan. Semua perusahaan, kecil, besar, menengah, butuh tenaga ahli akuntansi. Dan gajinya emang menggiurkan, kata blog seseorang. Khususnya seorang auditor, fresh graduate bisa dapet gaji yang lumayan. Dan setelah mengetik dengan berbagai macam tulisan, gue ga menemukan satupun job untuk seorang financial analyst yang oke. Di blog seseorang tadi juga disebutkan job finance analyst, tapi gajinya kalah dari gaji auditor. Damn.

Kalau mikir soal lowongan pekerjaan finance analyst di google kalah sama sarjana akuntansi biasa, tiba-tiba Untar punya nilai banyak kelebihan. Karena selain murah di ongkos, lulusannya lebih terpakai. Sementara di Surya, gue udah menghabiskan uang hingga 2 kali lebih banyak, dan ga semua perusahaan nerima gue, dengan penghargaan yang pantas, ini menurut gue.

Meskipun ga dipungkiri, jurusan semacam ini belum ditemukan di Indonesia. Paling ga belum ramai, gitu.

Minggu, 27 Oktober 2013

Sekitar setengah sampai 1 jam lalu, gue puter haluan ke Binus. Boleh gue ngomong kata kasar?
Gue menjilat ludah gue sendiri, dengan mencari-cari soal binus. Dan jeng jeng jeng.

Hari ini adalah tes gelombang terakhir untuk jalur beasiswa.

3 hari yang lalu adalah hari terakhir pendaftaran.

Jadi gue ga mungkin lagi masuk binus dengan potongan minimal 15%.

Gue lagi nangis, walaupun gue benci kalau gue kesekolah dengan mata bengkak lagi.
Rencananya mau hemat uang, malah begini.

Bagi gue, memperoleh beasiswa bukan sekedar penghematan uang. Salah satunya tertulis di visi gue, dan terakhir untuk prestise. Yup. Bagi ibu-ibu sosialita mungkin tas Chanel limited edition, bagi anak kecil mungkin mainan terbaru, dan lain-lain. Tapi bagi gue adalah seberapa besar gue memperoleh beasiswa, dan berapa besar penghematan yang gue lakukan. Gue pengen ngatain diri gue sendiri karena sombongnyaaaa..

Mungkin ini cara Tuhan mengajar gue untuk tidak sombong berlebihan.

Bahkan otak gue sedang mengejek gue. Riset? Universitas berbasis riset? BTW gue abis survey lapangan dimana Surya University berpijak.

Gue ga terima aja, istilahnya, anak sepinter gue kenapa harus masuk dengan jalur biasa?

Oke, berhenti sombong. Kalau begini terus, bisa-bisa gue malah ga kuliah sama sekali.

Gue tau gue sakit jiwa.

Kenapa hari ini harus 27 Oktober?

Kenapa gue baru berpikir soal binus sekarang?

Kenapa.. kenapa mimpi itu selalu indah?

Kenapa kenyataan jatuh di dasar banget?

Kenapa nasib ga berpihak ke gue?

Kenapa gue harus jadi gue? Why I have to be me?

Udah banyak gunung yang gue kira bakalan bisa di daki. Mulai dari mimpi ke Kyungsung, President University, UI, Surya University, Untar.. Binus ini sama sekali ga terlintas di mimpi gue. Dan sekalinya gue mau ke sana, Binus udah keburu berpaling.

Hidup.

Gue berpikir, seandainya gue bukan hidup dalam keluarga yang nilai religiusnya kuat, gue pasti akan bunuh diri sekarang. Gue ga kuat memikul malu sama diri gue sendiri, meskipun orang tua gue bahkan ga mempermasalahkan itu.

Senin, 4 November 2013

Stop membicarakan universitas, karena dari awal memang sudah seharusnya bukan hal itu yang gue bahas. Masalahnya sekarang, gue sekolah aja udah males. Ada proyek ini itu, bikin kerjaan. Dan lain-lain. Ah.
Hm, bahas apa ya?

Oh ya, ini baru kemarin terlintas di pikiran gue. Soal keberadaan partai politik di Indonesia yang menurut gue ga sehat. Kebetulan tadi pagi guru gue juga menyinggungnya seklias. Gue ga setuju keberadaan partai politik yang berasaskan agama di wilayah pemerintahan eksekutif. Agama apapun itu. Ya, ya. Sila kesatu kita keTuhanan. Intinya Negara kita mengataskan Tuhan dari segalanya. Tapi menjadi bagian dalam koalisi pada penjabatan Presiden dan wakilnya, gue cuma merasa aneh.

Kita kan bukan Negara agama?

Partai agama ini itu menurut gue harusnya sebatas duduk di DPR, sebagai penyalur aspirasi masyarakat agama ini itu dalam kegiatan pemerintahan dan pembentukan undang-undang. Plis, Presiden dan Wakil Presiden kasih ke partai Nasionalis aja. Toh Presiden dan Wakilnya beragama. Sudah pasti punya rasa solidaritas yang tinggi atas agamanya, dan rekan agama yang lain sebagai sesame yang diajarkan dalam interen agama.

Gue bicara ini sebagai minoritas, tentu saja.

Guru gue mendukung dengan berpendapat kalau agama tidak bisa dicampur adukkan dengan politik. Lihat agama Katholik? Sampai pecah dua men.

Yang pasti, dipimpin kader dari partai beragama bukan berarti Tuhan beserta kita.

Peace.

Selasa, 5 November 2013

Halo, selamat tahun baru Muharam!

Semalem gue mimpiin ahjussi kesayangan gue lagi, So Jisub. Seperti biasa, ceritanya ga jelas. Seharusnya gue bareng sama dia, tapi entah bagaimana kita terpisah dan gue sama orang lain. Aduh, gue ga ngerti deh. Sekarang malah gue ragu itu cerita So Jisub hehehe. Seinget gue sih dia.

Cuma satu kejadian yang gue inget. Ceritanya dia lewat, dan gue kaget setengah mati. Bukan kaget sebagai fangirl, tapi kaget sebagai tersangka suatu kesalahan sama dia. Dia lewatin gue, tapi ga lama berbalik dan menemukan gue. Bener ga ya?

Beberapa bagian di mimpi ini rasanya udah pernah gue mimpiin sebelumnya. Soal video-video tentang siapalah yang lagi apalah tau. Ga jelas ya? Hm, soalnya pas bangun gue ga sadar gue mimpiin So Jisub jadi ga langsung nyatet. Daaan hasilnya tara! Gue ngelantur kaya gini wkwkk.

Jumat, 8 November 2013

Hadir kembali, godaan untuk mendaftar ke universitas Surya. Tenang, mungkin ini kali terakhir gue tergoda, karena batas akhir pengajuan beasiswa 15 November, tepat 7 hari dari hari ini. Pasalnya, guru BK gue kembali mendekati gue dan memastikan apakah gue menerima Surya atau tidak. Lalu gue nanya. “Siapa lagi yang daftar Surya?” beliau nyebut satu anak IPS kelas sebelah, cewe, dan kebetulan satu SD sama gue. Barusan gue Line dan nanya macem2 sama dia. Katanya dia mau masuk jurusan komunikasi -_- Dear, di surya ga ada komunikasi semacam itu. Oke, gugur. Dan kalau udah begini, alasan-alasan gue pengen masuk Surya kembali bermunculan, baik yang gue kemukakan ke orang tua gue maupun tidak. BTW, bokap gue akhirnya setuju-setuju aja gue untuk ngekos. Hehehe.
Tapi hasutan nyokap gue memang ampuh. Entah memang beliau benar atau beliau yang masih konvensional dan bersikap apatis sama universitas yang boro-boro terakreditasi, murid-muridnya aja baru belajar sekitar 3 bulan di sana, serta jurusannya yang ga punya lapangan kerja yang banyak. Tapi di terakhir, beliau tekankan lagi, kalau semua itu dari sudut pandangnya. Jadi keputusan tetap di tangan gue. Intinya, nyokap gue lebih setuju gue ke UNTAR.
Ngomong-ngomong, alasan yang ga pernah gue sebutkan ke orang lain itu adalah keangkuhan. Betapa bangganya ketika orang tua gue ditanyai oleh keluarga, kerabat, dan teman dekatnya “Anak lo kuliah di mana?”. Mungkin kalo jawab Surya orang ga merespon banyak. Tapi ketika mereka meneruskan “abis berapa?” dan nyokap gue akan menyahut “Dia dapet beasiswa 100%” itu wow banget. We o we. Sebagai anak nyokap gue, gue kan pengen buat dia bangga juga dengan bukti kalau gue mungkin ga berbakat dalam bersosialisasi, tapi gue bisa dihargai sebuah universitas yang uang kuliah normalnya 3 juta sebulan sampai menggratiskan biaya kuliah demi gue menimba ilmu di sana. That’s it.
Mengingat gue yang galaunya selangit begini, mungkin gue memang kurang pantas menekuni bidang analisis.

Sabtu, 23 November 2013

Halo, kembali dengan gue.

Sekali lagi, gue membawa kegalauan gue mengenai Universitas. Ga habis-habis ya?

Kali ini dari perusahaan raksasa, Bank BCA. Ngga, gue ga ditawarin khusus dengan nilai gue yang belakangan oke. Ini jalur regular. Lewat tes, tapi kalau gue sampai di terima, gue bisa menempuh pendidikan D3 selama 2,5 tahun, lalu lanjut ke Universitas Trisakti dan sekitar 1 tahun gue lulus sebagai Sarjana Ekonomi Trisakti. Oke, kan? Lalu hebatnya, kita ga perlu bayar. Semua ditanggung sama pihak BCA. Bahkan sampai uang sekolah gue selama semester 2 di kelas 3 ini bisa dirembes. Selama 2,5 tahun belajar, gue digaji 2,5 juta sebulannya. Kuliahnya setiap hari, dan dapat makanan ringan jam 11 dan jam 3. Hari sabtu, kabarnya, makan siangnya dalam bentuk buffet.

Tiga kata buat program Program Pendidikan Akuntansi BCA. Anjir. Keren banget. wkwkwk.

Bahkan temen gue yang tadinya ga neko-neko mau daftar Universitas Negeri Jakarta jurusan musik, karena memang passionnya di sana, mau daftar juga. Gembel memang.

Tapi ini kesempatan buat gue, karena lulusannya bisa dipastikan ga nganggur. Karena pihak BCA akan bersedia memperkerjakan gue. Yah, kecuali gue bandel dan geblek atau agak gila.

Gue baru mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Doakan ya, gue berhasil lolos saringan 2 psikotest + 2 wawancara + 1 medical test. Terutama kemudian IPK gue ga pernah di bawah 2,75. Karena kalau ga.. out. Jeglek.

Masalahnya adalah, gue udah membayarkan angsuran pertama gue ke untar. Ah..

Rabu, 11 Desember 2013

Oke, banyak yang bisa gue ceritakan, tetapi gue ga lagi mood curhat. Gue cuma bête karena ulah ‘idol’ dalam program Running Man. Gue sangat suka variety show dari luar negeri ini, dan kebetulan gue lagi nonton yang bintang tamunya disukai hampir semua orang. IU. Yeah, gue suka lgu-lagunya. Tapi dia udah di Running Man beberapa kali, dan gue kurang suka dengan kehadirannya di sana. Dia seperti Shin Sekyung. Pembawaannya serius, dan daripada berbohong, dia memilih tertawa-tawa blablabla. Dan dia berteriak dengan suara melengkingnya ketika teman satu grupnya jatuh. Gue tau, kalo gue diseret ke variety show macem gitu, mungkin gue lebih buruk dari yang IU lakukan. Masalahnya, kalau gue jadi artis dan gue tau gue ga cocok, gue ga akan coba melakukan promosi dengan jalur variety show. Kecuali episodenya lagi special idol gitu. Lah, ini dia di pasangin sama comedian senior Park Myungsoo. Kan gue jadi serbasalah. Dan gue memang agak males sih sama IU kalo dalam konteks variety show. Dia lebih cocok ke talkshow mungkin menurut gue. Variety show menuntut pengalaman yang banyak dan kepribadian yang cocok. Dan menurut gue, IU cocokan nyanyi, karena memang itu profesinya. Dan gue cuma senang dengar lagu-lagunya. Dia bikin gue nonton Running Man dengan bad mood.

Maaf yah, sekali lagi gue bukan haters IU, tapi kalo ada guest IU sendirian, dengan pertimbangan temanya kurang asik, sebisa mungkin gue hindari. Dan idol-idol lain yang ‘newbie’ di variety show.

Jumat, 25 Oktober 2013

Nasib di Tangan Bus Patas AC yang Mampir Tol Kebun Jeruk dan Tol yang Menuju Gading Serpong *HELP* [Part 2]



Jumat, 25 Oktober 2013

Kali ini gue menulis, masih dengan kegalauan. Bahkan setelah jam-jam sepanjang malam kemarin gue isi dengan raungan yang minta dikasihani. Yeah, gue memang cengeng. Baru sebentar ngobrol dan ditekan untuk meninggalkan Surya University dengan banyak pertimbangan. Satu, belum tentu ada bus patas yang lewat tol Kebun Jeruk dan berhenti di Gading Serpong. Dua, kalau hujan repot. Tiga, kalau hari Jumat bisa-bisa gue ga pulang, saking macetnya di tol. Lalu gue berlari ke kamar gue dan menangis sampai tidur. Gue bahkan ga sempat mengucapkan kalimat yang bisa digunakan sebagai senjata.

“Kita harus keluar dari zona nyaman.”

Itulah pointnya, kenapa gue kebirit-birit mengejar Surya University. Karena walaupun jatuhnya biaya kuliah sama aja dan akreditasinya belum ketahuan, gue yakin Surya University patut diperjuangkan. Setidaknya, otak gue lebih banyak bekerja. Masalahnya, selama 2 tahun gue belajar dasar-dasar akuntansi, meskipun dibilang dasar banget dan ga ada apa-apanya sama keseluruhan program jurusan akuntansi yang sesungguhnya, gue merasa otak gue ga digunakan secara maksimal. Dari apa yang gue lihat dengan wawasan gue sekarang, akuntansi, apalagi cuma lulusan S1, cuma seperti tempat training. Satu-satunya yang menguras nalar cuma penghitungan AJP, dan itupun cuma sulit di awal-awalnya, terutama karena gue ga berusaha mengerti. Waktu itu awal-awal kelas 11.

Dan sebagai pencari alasan yang baik, gue merasa kalau kuliah akuntansi itu sama seperti mengubur otak pada sistem. Dan ga diajarin untuk melihat sistem itu dari luar. Inilah yang gue incar dari Surya University. Analyst. Financial Analyst. Meskipun gue ga bakat-bakat amat menganalisa, tapi jurusan itu jauh lebih menarik dari sekedar tata buku akuntansi.

Memang Untar terkenal dengan fakultas ekonominya, setidaknya itu menurut orang tua gue, dari zamannya. Dan kebetulan letaknya dekat, paling lama satu jam dengan angkutan umum. Dan harganya juga kebetulan ga gitu nguras. Dan Untar bekerja sama sama perusahaan akuntan publik terkemuka, Ernst & Young. Peluang gue menembus perusahaan besar itu lebih besar.

Gue berandai-andai, letak Untar di Gading Serpong dan Surya University di daerah Grogol.

Gue pasti positif masuk SU, mana Untar cuma ngasih diskon 20% atas kerja keras gue 2 tahun di sekolah yang sulit perolehan nilainya dan menurut gue SANGAT ga adil. Bayangin aja, seorang anak yang ga naik waktu gue kelas 10 pindah ke sekolah T, dan kemudian dia tetap dinaikkan, dan kalian tahu, dia jadi KETUA OSIS. Dari sekolah yang sama, gue menemukan beberapa anak yang coba jalur seperti gue ke Untar, dan mereka akhirnya dapet potongan >50%.

Siapa yang bisa terima dengan lapang dada? Gue ga mencela prosedur jalur perolehan beasiswa Untar, karena gue sendiri ga kepengen jalur tes beasiswa. Gue cuma merasa sampah, malu sendiri kalau melangkah ke sana, dengan usaha lebih keras, tapi ga berhasil menyimpan uang lebih banyak.

Tapi di SU, gue merasa dihargai. Walaupun gue tau gue bakalan bayar selama 3 tahun karena perolehan IP semacam itu mustahil. Setidaknya bagi gue itu mustahil. Hehehe.

Itu aja. Gue sama sekali ga berniat merendahkan Untar yang pengalamannya jauh lebih uzur dibanding anak ingusan kemarin sore Surya Univercity, walaupun pendiri Surya University jauh lebih menyentuh gue sampai ke dalam-dalaman.

Sekalipun pada akhirnya gue melangkah juga masuk kampus Universitas Tarumanegara, gue ga akan lalai belajar keras dan mencapai IP yang maksimal. Gue akan berusaha keras di manapun gue belajar. Tapi alangkah baiknya kalau gue bisa masuk Surya University.

Tolong info dong, bus patas yang mampir tol Kebun Jeruk dan mampir Gading Serpong juga..

Kamis, 24 Oktober 2013

Nasib di Tangan Bus Patas AC yang Mampir Tol Kebun Jeruk dan Tol yang Menuju Gading Serpong *HELP*



Kamis, 24 Oktober 2013

Setelah mingkem cukup lama karena batalnya rencana berjaket kuning, gue kembali mendapat angin segar.
Hari Senin kemarin seorang luar biasa mampir ke sekolah gue, mempresentasikan tentang Indonesia Jaya dan universitasnya, Surya University. Walaupun gue anak IPS dan beliau lebih menekankan ke ilmu IPA, gue banyak termotivasi. Apalagi belakang-belakang beliau ngaku kalau beliau adalah S3 dengan spesialisasi Fisika Nuklir, yang membawa Indonesia menjadi pemenang dalam olimpiade Fisika internasional yang bergengsi, dan lain sebagainya. Yup, beliau adalah Prof. Yohanes Surya, Ph.D. Sial, brosurnya baru dibagiin belakangan. Kalau aja brosurnya dibagi lebih awal, gue akan menganga lebih lama dari yang kemarin gue lakukan.

Ga perlu gue detailin soal isi presentasinya, tapi yang pasti cukup buat gue yang awalnya ga tau siapa dia jadi tertarik. Lalu beliau mengakhiri sesi presentasi dan sampailah di bagian yang paling gue suka, bagi-bagi hadiah. Ekspektasi gue adalah merchandise berupa pensil, buku memo, atau semacam tas bersablon Surya University. Tapi daebaknya, bukan merchandise yang luap oleh sablon merek, tapi beasiswa.

Beasiswa 100%.

20 anak dari angkatan gue dapet selembar sertifikat yang merupakan simbol anugerah beasiswa 100% dari Prof. Yohanes Surya, Ph.D, total 5 anak per kelas. The good news is, I’m one of them.

Another good news, I do shake hand with him. Kyaw! Gue harap sedikit dari IQ-nya tercopy-paste ke gue. Hehehe.

Mengharukan banget bagi gue, si pendiri universitas yang datang langsung ke tempat gue. Gue sangat menyesal karena mengabaikan beberapa kata karena gue pikir beliau orang biasa. Baca, sangat menyesal.

Kesan gue makin baik, karena gue mikir juga. Kenapa ni orang ga ngomong soal dirinya yang luar biasa itu dari awal? Seandainya dia ngomong dari awal, mungkin gue akan lebih memerhatikan dari awal. Tapi gue mikir juga, sih. Seandainya dia ngomong dari awal, akan tampak seperti dia menyombongkan diri. Berhasil, professor ini berhasil menyentuh hati anak SMA yang plin-plan ini buat membulatkan tekad setiap hari ke Gading Serpong, ke kampus Surya University.



Lagipula, ada jurusan Finance Analyst yang pastinya belum banyak lulusannya. Dan gue rasa itu lebih baik dari sekedar Akuntansi di Untar (maaf ya kalau tersinggung. Ini pendapat pribadi yang wawasannya masih kurang, jadi kalau salah mohon diberitahu). Meskipun gue akui, gue lebih cocok kerja di belakang meja dan berkutat sama buku.
 

Dan selanjutnya, tragedi UI kembali terulang.

Damn, dengan apa gue ke sana setiap hari? Kos? Jatuhnya mahal. Pulang pergi setiap hari, ga ada angkot yang tepat. Sebenernya, jarak dari rumah gue ke daerah Serpong sana ga jauh, sekitar 30 menit naik mobil. Harus naik mobil, karena lewat tol. Oh, man. Kalo kos, repot ini itu dan the most important is, bokap gue. Sekali lagi bokap gue menyarankan gue masuk Untar.

Dan barusan, satu-satunya orang tua yang menyetujui gue kemanapun gue mau berkampus, nyokap gue bilang, “udahlah, mikir yang simple aja.”. Lalu gue pun membalas, “simple berarti kuliah di Untar..” nyokap gue ga jawab. Gue pengen lihat deh nasib gue satu setengah tahun ke depan. Apakah gue akan nongkrong di Citraland atau Summarecon.

Memang pertimbangan gue di Surya University lumayan juga. Satu, kampus itu lebih ke sains. Jadi gue takut kalau fakultas IPSnya ditelantarkan. Dua, beasiswa itu tentu bukan tanpa syarat. IPK gue harus diatas 3,25 ditahun pertama, 3,5 ditahun kedua, hingga 3,75 di tahun ketiga. Agak mustahil ya.. Sekilas info, gue baru liat kalau tahun terakhir minimal 3,75. Sebelumnya gue kira 3,23 sepanjang 4 tahun. x_x .Kalau gue ga sampai segitu, gue bakalan bayar fee 3 juta sebulan. Gila lo, itu 3 kali lipet uang sekolah gue hari ini.

Sekian curhat manusia super galau ini..


nb: Atau ada yang mau bantu info? Apa ada bus patas AC yang mampir tol Kebun Jeruk dan kemudian mampir ke tol yang dekat Gading Serpong? Berbagilah, nasib gue bisa jadi di tangan kalian.. Terima kasih.

Kamis, 03 Oktober 2013

Galau: PTN vs Swasta =>.. @.@



Kamis, 3 Oktober 2013

Kemarin tanggal 1, gue dan 2 temen gue mampir di tempat les intens, les yang buat masuk Perguruan Tinggi Negeri atau PTN. Setelah melalui kegalauan yang walaupun ga panjang tapi lumayan berat dan dikejar-kejar, keputusannya udah gue dapet semalem. Pertimbangannya, kalau gue masuk univ swasta deket gue, uang masuk mahal, uang per semester mahal, dan ga ada jurusan yang gue bisa masuki selain akuntansi. Pertimbangan kedua, kalau gue masuk univ negeri yaitu Universitas Indonesia, ga ada uang pangkal, uang persemester lebih murah sampe setengahnya, jurusannya aneh-aneh (tujuan gue antropologi atau kebudayaan dan bahasa Korea) yang ga ada di universitas lain, dan lulus-lulus gue lebih dihargai. Apalagi kalau gue masuk antropologi, yang mana fakultas ilmu sosial dan politik, salah satu fakultas bergengsi di universitas bergengsi. Bisa gue pastikan, seantero keluarga besar dari bokap-nyokap, akan lebih menghargai kedua orang tua gue, secara berhasil membesarkan anak yang berhasil. Cuma kalau gue kuliah di UI, gue butuh biaya hidup yang angkanya lumayan, kalau diakumulasiin jadi sekitar 70% lebih mahal dari biaya gue di univ swasta ini.

Tapi kemudian masalah muncul timbul tenggelam. Tiba-tiba temen gue satu persatu mundur dari perjuangan menuju universitas negeri, dengan alasan a-z. Kemudian, masalah yang paling penting yang ternyata ga mudah untuk gue tuntaskan, bokap gue ga setuju. Alasannya? Dia ga mau jauh dari gue. Alasan paling ga jelas. Masalahnya, gue ga dalam hubungan sedekat itu dengan bokap gue. Gue lebih deket ke nyokap, dan nyokap setuju gue pergi sebagai cara membuat gue mandiri. Seandainya bokap ga setuju karena pengeluaran investasi yang mahal itu, mungkin gue akan lebih menerima. Masalahnya bokap gue ga mungkin udah itung-itung tentang uang, dan malah sejauh yang gue beritahu, biaya masuk UI jauh lebih murah daripada univ swasta.

Tapi yang bikin gue sesenggukan ga ketolongan begini bukan karena bokap yang tidak merestui. Ini bikin gue hancur ketika gue mendengar temen gue mundur dari misinya ke universitas negeri, dan gue sadar gue pun ga bisa ke sana. Nyokap gue ga akan setuju gue sendirian di sana. Gue udah bermimpi ke Korea, Singapur, bahkan Jogja untuk menimba ilmu. Tapi ke UI yang cuma di Depok aja ga dikasih bokap. Dan gue harus berhenti berjuang memperoleh restu ke bokap karena keputus-asaan temen gue. Dan akhirnya gue akan terjebak dalam usaha menyeimbangkan debit kredit sampai gue mati

Ini lebih kaya gue dihalang-halangi, tapi sebenernya semua karena ketidakmampuan gue, karena terlalu lama berleha-leha. 17 tahun gue leha-leha, ini akibatnya.

Gue suka angka, dan nilai akuntansi gue terbilang baik. Tapi di banding angka, gue lebih menyukai tulisan yang dalam maksud gue ini sosial tentunya, meskipun mereka kurang berpihak pada gue soal nilai. Kesukaan gue membaca dan menulis ini, cuma berhasil dapet 7,25 di rata-rata rapot kelas 10 dan 11. Kesukaan gue nonton acara impor macem RunningMan sampai movie Korea bersubtitle inggris cuma membawa nilai rata-rata Inggris gue ga sampai +3 dari KKM. Matematika, pelajaran yang gue khianati waktu kelas 10 karena memilih untuk menjauh dari mendalaminya itu malah memberi gue makan banyak, sampai +8 dari KKM. Trus gue musti gimana?

Kemudian, yang bikin gue membuang jauh-jauh formulir pendaftaran itu, adalah program pascasarjana. Tidak menutup kemungkinan gue akan mencoba menempuh program itu. Gue ga terbilang menyukai belajar, tapi gue ga benci untuk tahu lebih banyak dari yang gue tau sekarang. Misalnya gue mau ambil program pascasarjana jurusan psikologi. Memang,memang ini diperbolehkan. Tapi apa itu akan menunjang karier gue? Dua hal itu ga ada hubungannya sama sekali, objek yang dipelajar di akuntansi adalah pencatatan transaksi, variasi jual beli dan lain-lainnya. Psikologi? Gue cuma buang-buang waktu. Gue juga mau memperdalam bahasa Korea. Apa ada hubungannya? Bisa gue simpulkan, ga ada jurusan lain yang cocok untuk lulusan akuntansi. Selain perpajakan dan cabang akuntansi lainnya.

Kemarin gue liat mata kuliah jurusan Antropologi UI, dan gue jatuh cinta. Belajar budaya, etnografi, dan ada unsur sainsnya. Gue suka sains-sosial, hubungan keduanya. Akuntansi? Gue akan menikah sama buku folio, dan nge-date sama transaksi setiap hari. Ini yang namanya hidup? Gue mau ngambil kursus bahasa Korea, tapi gue berpikir ulang, apakah kursus itu hanya akan membuang uang, tenaga, dan waktu gue.

Gue ga menyalahkan siapapun atas kegagalan gue mencicipi kursi universitas terbaik ke-3 di Indonesia itu. Gue ga kuat nahan mata gue kering ketika sadar betapa lemahnya gue. Betapa gue ‘ga bisa apa-apa’. Betapa gembelnya gue yang ga jadi mendaki gunung karena teman yang bahkan bukan soulmate gue dan ga pernah sekelas gue. Betapa mimpi hidup gue yang berwarna pelangi itu kini tinggal hitam putih. Dan gue ga punya harapan lain selain ambil S2 perpajakan.

Lalu gue berpikir, untuk menjadi mesin pembuat uang, dan menjadi bahagia saat menghabiskannya. Tapi bahkan lulusan S2 perpajakan, cuma akan jadi tingkat entah ke berapa di perusahaan, dan gue akan jadi bawahan selamanya.

Akuntansi adalah ilmu mati. Kalau ada yang punya sanggahan tolong beritahu gue agar tidak mati bosan bahkan saat memikirkannya saja. Ga inovatif, ga kreatif. Yah, gue memang ga tergolong anak kreatif inovatif, tapi setidaknya ada yang baru sekalipun setiap 10 tahun sekali. Ilmu sejarah misalnya.

Mata gue udah cukup bengkak, kalau ditambah lagi gue khawatir kantong mata gue menghalangi penglihatan. Gue akan mungut formulir pendaftaran univ swasta dari tong sampah dulu, dan menyetrikanya sampai lurus lagi.Dan membuang semua file lunak maupun fisik tentang kumpulan soal SNMPTN. That’s all for today.