Selasa, 04 Juni 2013

UKK Selesai ~




Selasa, 4 Juni 2013

Ulangan Kenaikan Kelas, selesaaiii! ~~

Sepertinya gue punya perubahan sedikit dalam proses sosialisasi. Ini ga seperti gue. Kemarin malahan gue kasar banget sama nyokap. Asli. Gue ga b isa salahin mimpi doang, karena yang akhir-akhir ini berubah bukan cuma itu. Yap, gue kebanyakan belajar. Gue rasa gara-gara itu, deh. Hahaha. Ga deh, bisa gue pastiin kalo perubahan aneh yang terjadi dalam diri gue ini murni karena gue kebelet ama om Jisub.

Oh ya, katanya Seo In Kook ikutan main dalam drama terbaru yang dibintangi So Jisub. Positif, mau tu film di bilang ampas dan rating 0,1% gue pasti nonton. Hehehe. Karena alasan yang membuat seorang nonton kan kalo ga dari teknisnya, ya pemainnya. Teknis maksud gue adalah jalan cerita, ide cerita, karakter, pengambilan sudut pandang, sampai cara pengambilan gambar dan lain-lain. Kalo dari pemainnya, ga selamanya subyektif 100% kok. Dilihat juga kemampuan akting pemainnya. Kalo aktingnya terlalu ketara ga bisanya, kan males tuh. Biasanya sih karena ada pemainnya yang ganteng atau cantik. Atau dia idola Korea yang disuka. Tapi kalo cuma karena idola, gue jarang mau nonton. Biasanya sih karena aktornya gue suka.

Satu dilema gue adalah nonton When a Man Loves atau ngga. Alasan mengapa gue ingin nonton adalah ceritanya kayanya lumayan, dan seorang aktor pria pemeran keduanya (lupa namanya wkwk) gue suka. Yang bikin gue gamau nonton adalah itu melodrama, pemeran utama perempuannya yaitu Shin Sekyung gue ga suka aktingnya. Yah ga bisa dipungkiri dia cantik, sih. Tapi dia kaya artis yang terkenal seksi-seksi gitu, gue jadi males. Pemeran cowok pertamanya biasa aja, malah cenderung males sih wkwkw. Okelah, pemeran cowok pertamanya gue anggep netral. Ini melodrama dan Sin Sekyungnya itu. Tapi ada pemeran cowok keduanya mauu. Ituloh, yang main Arang and the Magistrate jadi pemeran cowok kedua juga. Gue juga pernah nonton short filmnya dimana dia jadi homo di sana. Oh ya, pemain drama Nine : Nine Times Time Travel pemeran utamanya, Lee Jin Wook. Cakep yah, wkwkwkwk.

Balik ke kehidupan gue, ceileh.

Meskipun UKK telah berakhir, besok gue harus dateng pagi seperti biasa untuk mengikuti remedial sejarah. Gembel memang. Dan Jum’atnya gue harus ke sekolah untuk mengembalikan buku. HANYA untuk mengembalikan buku. Zzz banget ga sih. Intinya minggu ini gue ga libur selain tanggalan merah :’(. Senin, Selasa, Rabu depan ada classmeeting. Temen-temen gue pada rencananya mau masuk hari pertama doang. Tapi karena gue bilang gue ga mau masuk sama sekali, seakan-akan mereka ‘dipaksa’ gue untuk ga masuk sama sekali dengan melontarkan alasan-alasan ketakutannya kalau ga masuk.

Dua temen gue ke KFC hari ini. Beberapa alasannya gue gamau ikut adalah, bawaan gue berat (gue udah bawa semua buku cetak yang ternyata baru boleh dikembalikan hari jum’at). Kedua, gue ga bawa uang untuk dihabiskan di KFC.  Mereka ga nanya dua kali mengenai keikutsertaan gue sama mereka ke KFC. Kesannya gue seperti minta diperhatikan, ya? Sebenernya gue takut mereka ngomongin gue di sana. Tentang gue yang ga pernah mau ikut nongkrong, gue yang malas ikut classmeeting, gue yang ga ikut kerjain tugas penjaskes, gue yang ini, gue yang itu. Kekhawatiran sosial, biasa.

Alasan gue yang terakhir adalah, gue mau puas-puasin curhat di komputer :D

Senin, 03 Juni 2013

Hantu yang Indah




Senin, 3 Juni 2013

Besok Ulangan Kenaikan Kelas hari terakhir \(^V^)/ tapi udah ga banyak semangat yang sisa. Habis di waktu pelajaran sejarah, dan ternyata gue kecewa dengan soalnya. Sama halnya dengan sosiologi barusan. Padahal sumpeh, gue udah serius abis pas belajar sejarah. Huhuhu.

Gue seperti dihantui oleh mimpi So Jisub itu. Oke, dihantui bukan kata yang tepat. Karena sebenernya gue yang memunculkan hantu itu. Ini seperti morfin gue. Kata morfin bukan sekedar kata yang terkesan mencandu. Bahkan efek sampingnya. Gue jadi bengong mulu, bahkan omongan gue jadi kasar sama orang tua. Gue jadi lebih cepat emosi, itulah yang gue rasakan.

Dan satu hal lagi, ga pake lebai.

Sekejap, gue merasa semuanya itu nyata. Kenapa nyata, karena gue  memiliki suatu perasaan aneh saat sadar bahwa gue hanya anak malas yang punya khayalan tingkat tinggi. Ini gila. Dan terjadi ga hanya sekali. Gue akan memanfaatkannya sebagai pengantar tidur gue. Tapi gue juga takut dengan efek sampingnya. Ini.. seperti nightmare yang indah. Nightmare dalam cerita Angel Hunt dari komik Jepang itu. Mimpinya indah banget, tapi tubuh melemah dan akhirnya kita mati dalam 20 hari. Yah, gue seperti itu. Oke, gue ga seperti itu juga, sih.

Spesial : Khayalan Tingkat Tinggi




Jumat, 31 Mei 2013

Halo! Kali ini gue spesial menceritakan mimpi gue yang durasinya udah kaya film. Ajib banget!

Awalnya sih biasa, gue ga ngerti. Di bus, gue kaya duduk sampingan sama cowo yang gue lupa siapa. Itu ada ceritanya kayanya, tapi biasa, gue lupa. Trus sampe di toko roti. Ada sesuatu yang kayanya gue inget banget, padahal lupa. Trus tas gue hilang. Trus akhirnya ketemu dan ada setumpuk buku akuntansi. Gue mau bawa buku akuntansi gue tapi tas gue kecil dan ga muat, jadi gue tinggal. Orang penjual di sana juga meminta gue uang karena udah cape nyariin tas gue. Wkwkwk.Tapi gue kaya kelamaan, jadi gue ga dikasih masuk bus. Gue naik Toyota Innova (bukan iklan) dan ada temen SD gue, Adeline di sana. Trus gue ke satu tempat yang pernah muncul di mimpi gue ga tau kapan. Gue masuk, isinya semacam mall. Gue ketemu seorang cici yang gue kenal waktu kecil. Oke, ini masih dalam konteks mimpi itu ya. Gue sama dia dan satu anak lagi kaya setengah kelayapan dan terlambat-terlambat mengikuti kaum tua. Lalu kami di protes “Cuma mau kotak makan aja, sih.” Cibir salah satu tua-tua. Cici ini kesal tapi berusaha tersenyum. “Hahhaa.” Gitu-gitu. Tapi gue ga diomelin, dan Cici itu tampak agak iri sama gue.

Lalu seperti biasa, kita ke tempat lain yang ga nyambung. Tiba-tiba di layar pikiran gue tampak aktor Korea yang sangat terkenal, So Jisub, lagi mabok dan telanjang berdua sama seorang cowo lain. Yah, semacam gambaran dia homo. Trus mereka jiji-jijian gitu. Temen cowonya kesal gimanaa gitu karena ‘ketauan’ mungkin ketauan sama gue yah. Tapi So Jisubnya ga peduli.

Lalu entah gimana lagi gue berada seruangan sama So Jisub. Kami ngobrol entah apa, lalu temanya lama-lama ngawur. Aktor beken itu semacam “ngajak” dan dia nyebut harga 200 ribu. Gue nanya “yang bayar siapa?” dia jawab. “Aku.” Kami sambil melakukan aktivitas masing-masing yang gue ga ingat apa itu. Lalu gue berpikir sebentar dan gue jawab bahwa gue mau. Lalu kami seperti mau melakukan suatu yang panjaaang tapi di sini gue sadar bahwa kami di wc karena ada orang yang gedor-gedor pintu mau masuk juga. Lalu pria ini menyalakan lagu. Agak lama, gue sendiri bingung dia ngapain. Trus mulailah reff lagu T-ara – Bo Peep Bo Peep. Lalu gue dan dia lari keluar. Trus kami sampai di kamar, tapi ada tante siapa, ga jadi lagi. Oh ya, kejadian ini gue ga tau mau selip di mana. Gue buka sebuah agenda, dan di sana ada foto gue sebagai mantan personil SNSD. Lalu gue kasih unjuk ke nyokap gue dan dia kaget. Sebenernya pas liat foto gue sebagai mantan personil SNSD itu gue juga kaget. Tapi ga lama gue inget kalau gue pernah jadi anggota SNSD. Kemudian gue bergumam, “Seandainya waktu itu gue tunggu sebentar lagi, gue juga pasti terkenal. Paling ga sampai lagu I Got a Boy.”

Gila, mimpi yang heboh banget. Baru kemarin gue ngomongin temen gue, Yul, yang setiap mimpi seperti film. Ini mimpi paling Korea kayanya.

Sebenernya mimpi gue ini uda paling ngayal dan porno abis. Gue yakin banyak adegan yang kepotong karena gue lupa. Di mimpi ini gue jadi perempuan protitusi banget. WKWKWK. Mengenai masalah lagu T-ara Bo Peep, gue sadar waktu bangun kalau permulaan lagu itu langsung Bo peep bo peep dan ga ada bait yang panjang di depannya. Gue juga beberapa kali liat-liatan sama So Jisub. Dan gue mantan personil SNSD.. ha..ha..ha . . .....(abis)

Oh ya, ini sama sekali bukan offense ke So Jisub kalau dia homoseksual. Karena gue nge-faaans banget sama dia. Mimpi ini menginspirasi gue jadi sebuah cerita romantis jika di edit-edit. Tapi kayanya kalau gue buat dengan ide kaya gitu, cerpen gue ga akan masuk majalah remaja. Majalah Playboy mungkin, itupun kalau mereka nerima cerpen. Karena itu cerita porno abis wakawkak.

Post hari ini sama sekali ga bahas tentang Re-. Tapi tau gak, dengan gue nulis begini, gue mention Re- juga. Hahaha. So Jisub, aaaa!!

Sabtu, 18 Mei 2013

Sekaligus :p




Selasa, 2 April 2013

Kemarin adalah hari yang gue nanti-nanti sebulan terakhir. Atau tepatnya sekitar 6-7 minggu ini. Pasalnya, gue baru menyelesaikan masterpiece yang gue andalkan untuk melaga di sebuah kontes fan fiction dunia maya. Kalau sampai menang, karya gue akan dibukukan bersama sekitar 12 fan fiction lain.

Setelah penantian panjang, gue mendapat yang namanya kekecewaan. Memang dalamnya kekecewaan berbanding lurus dengan tinggi harapan. Ya, gue terlalu berharap dan percaya diri. Bukan salah kepercayaan diri, salah gue karena tidak mengenal diri dengan baik. Ujung-ujungnya gue juga yang sakit. Harusnya gue ga seyakin itu. Yang bikin gue makin terperosok ke neraka adalah, kenyataan bahwa tanggal 1 itu belum penentuan hasil. Ternyata masih di babak final dan ada babak penyisihan selanjutnya. Dari yang tadinya peluang gue menang 1:21 kini menjadi 1:10. Karena katanya dipilih 10 cerita terbaik. Oke, harapan gue makin besar. Lalu gue menunggu sms yang tak kunjung datang. Karena gue memang ga menang. Ga puas sampai di situ, ternyata yang masuk final itu bukan 10 orang melainkan 11 orang, karena nilai kontestan ke 10 dan 11 sama. Itu sama aja ngubur gue di neraka. Ketika peluang semakin besar dan gue tetap ga menang.. Berarti kualitas cerita gue bahkan ga bisa menjadi nomor satu dari 4 cerita karya lain. Cacat cacat. Over PD abis nih gue. Hancur deh. Berkeping, menyerpih.

Sabtu, 6 April 2013

Hari ini hari Sabtu, tapi gue bahkan ga bisa berharap untuk bangun lebih dari jam 7. Gue tidur lewat tengah malam, tidur tidak nyenyak, mimpi panjang dan teringat, dan harus bangun pagi. Semalem gue habis ikut pesta temen baik gue pas SD dan SMP. Well, di san ague belajar dasar-dasar dari kegiatan dugem yang dilakukan banyak gelintiran anak muda di Jakarta yang menyimpang. Gue sendiri, tidak merasa itu hal yang buruk saat gue ada di sana. Terutama saat yang di puter lagu yang gue kenal, terlebih lagu Korea. Gue akan lebai teriak-teriak dan nari-nari. Itu hari pertama gue belajar dugem, dan gue ga merasa itu hal yang buruk. Oke, tenang. Gue ga bakal dugem beneran. Kecuali dugem di karaoke bareng temen biasa hahaha.

Im ngajak bicara soal perasaan dan akhirnya gue kasih tau soal Re-. Omong punya omong, sampai di saat menjelaskan bahwa gue menyukai Re- seperti seorang fans. El menjelaskan bahwa gue menyukai kulitnya saja. Kata-kata itu agak ga nyaman buat gue. Memang gue belum mengenal dia sebagai seorang Re-. Tapi, gue ga punya penyangkalan.

Lagi ngomongin soal Yul, katanya dia SD kelas 1 dan 2 di Santa Maria. Wow, itu SD temen kita-kita juga. Yang bikin gue agak terkejut, katanya mantan ketua OSIS kami itu kakak kelas dia. Maksudnya, si Yul ini ngaku kalo dulu dia adek kelas si ketua OSIS. Berarti, dunia itu memang sempit.

Trus siang tadi gue bakti sosial ke sebuah panti di daerah pamulang. Pagi-pagi seorang anak kecil yang mengaku namanya Rachel berkata bahwa seorang temen sekelas gue yang namanya Vi itu sok seksi. Si Vi ini cowo. Nah abis acara itu kan ke kolam berenang, dikabarkan si Vi ini main sama Rachel asik banget. Di gendong-gendong di punggungnya, di tebalik-tebalikin gitu. Pokoknya asik. Nah abis itu si Rachel ini ngomongin si kak Vi mulu. Nah akhirnya dia ngaku juga kalo dia suka sama kak Vi yang sok seksi. Meski terdenganr lucu dan sedikit menjijikkan, itu adalah miniature gue dan Re-.

Awalnya gue no-feel sama Re- kan. Gue jadi mikirin dia sejak dia neriakin nama gue demi mengucapkan ‘hati-hati di jalan’. Gue sadar gue sama dengan sebuah tokoh di komik cinta Jepang. Intinya temen sic ewe nanya sama cewek pemeran utamanya. Apa mungkin lo cuma berdebar setelah di cium sama cowok pemeran utama? Gue bahkan ga di cium. Oke, gue mudah jatuh cinta dan itu menjijikkan. Semakin tua umur orang itu memang semakin menjijikkan kan ya. Ugh.

Minggu, 7 April 2013

Gue sebel karena ketidak adilan ini. Sabtu hari istirahat gue dirampas, dan besok ulangan geografi. Sekolah lupa bahwa etikanya ketika hari Sabtu ga libur, ulangan di hari Senin itu tidak diperbolehkan. Lah kalau gitu kapan murid istirahat? Masalah lagi buat gue, gue ga cuma lelah otot.

Gue lupa cerita hari Jumat. Siang waktu istirahat kedua, gue dan teman-teman berencana membicarakan amsalah nginap-menginap ke Yul di kelas sebelah. Dua teman gue jalan lancer, tapi sekali gue meleng, gue menginjak karton manila putih untuk majalah dinding yang sedang di kerjakan yang tergeletak di lantai. Bukan sekedar kotor, karena kalo kotor bisa di timpa kertas dan bekas injekan gue ga keliatan. Gue menginjak dengan agak tergeser, sehingga lapisan tipis atas karton agak terkelupas. Gue ditertawai seorang yang gue kenal, tapi masalah yang lebih parah itu dua pemilik majalah dinding adalah anak kelas sebelah dan ga ada yang gue kenal secara pribadi. Gue meminta maaf berkali-kali, dengan segenap penyesalan dan malu gue. Yang satu akhirnya bilang ‘iya ga apa-apa’. Gue semakin yakin kalo ini pasti apa-apa saat sadar kalo yang satu cuma ngeliatin gue tanpa bilang apa-apa. Dan kemudian satu anggota kelompoknya datang lagi. Si pintar. Anak pintar selalu identik dengan perfeksionis. Itulah kekhawatiran gue terbesar. Ini mempengaruhi banget ke mood gue. Meski akhirnya diperbaiki oleh dugem amatiran itu. 


Gue benci mengatakan ini. Pengakuan bahwa gue adalah pecundang. Soal pecundang yang akan jadi pemenang itu masalah gue menghadapinya kan. Tapi untuk sekarang ini gue adalah pecundang. Gue akan jadi pemenang, tergantung sikap kedepannya. Gue harap, dan sama seperti harapan orang terhadap dirinya sendiri. Gue berhasil.

Ini jadi salah satu alasan gue berpikir bahwa dugem memang bisa ‘membantu’ gue menghadapi masalah. Siangnya, gue masih bête abis soal itu. Tapi begitu nari-nari dengan lampu berkilat yang menyilaukan mata, gue lupa semuanya. Malah kemarin gue ga nulis itu kan? Memang karena pengaruh waktu yang terlalu larut dan memaksa gue untuk mencicipi bantal lagi juga.

Menggunakan sedikit akal untuk memperoleh pembelaan egois soal izin dugem. Misalnya ketika menghadapi masalah yang berat dan pelik. Untuk menyelesaikannya, kadang kita perlu melihat masalah dari sudut lain. Memang dengan berpikir dalam kamar di bawah lampu temaram. Itu akan melihat kerucut bukan sekedar segitiga yang bervolume tetapi lingkaran yang mengecil dan terisi volume. Dugem itu menjauh dari kenyataan, dan digambarkan dengan melihat kerucut dari jarak jauh. Jika masalah itu sebesar gajah, dugem akan membantu melihat gajah itu sebesar semut dan melihat semuanya lebih menyeluruh. Memang ada cara selain dugem untuk melihat dengan cara seperti itu, tapi untuk saat ini gue cuma tau musik yang keras dan mata yang tersilau. Bagi gue itu pelarian yang cukup Teori bahwa dugem itu tidak menyelesaikan memang benar, buktinya saat gue nulis masalah tadi gue nangis. Tapi kalau dugem membantu kita melihat dengan sudut berbeda lagi itu bisa dibenarkan. Secara sudut pandang itu ga terbatar, sama seperti sudut pada lingkarang yang ga akan kehitung sampai mati.

Minggu, 14 April 2013

Gue tertarik dengan resolusi 2013 dan akhirnya gue baca lagi. Anehnya, gue mendengus baca resolusi gue sendiri. Baca lawakan gue sendiri. Yah, gue akui itu sering gue lakuin. Bagi gue itu menarik. Gue senang, karena itu gue banget.

Senin, 22 April 2013

Gue sibuk. Ada tanggung jawab yang cukup berat gue pikul sampai beberapa waktu ke depan. Dan pikiran gue balik ke satu topik yang menjadi alasan terbesar gue bikin gini-ginian. Re-.

Oh ya, kemarin gue liat dia nge-tweet tentang ‘love’. Gue udah ga liat dia secara langsung sejak satu setengah tahun yang lalu. Gue cuma berpikir, apa mungkin. Apa mungkin? Gue udah ga sayang sama sosok itu. Punggung itu. Gue bisa aja yakin kalo sosok itu adalah wajahnya. Tapi posturnya, dan yang paling pusat itu punggungnya. Mungkin gue akan meleleh lagi kalau lihat punggungnya. Gue tahu gue salah. Gue jatuh cinta pada sosok yang salah. Gue jatuh cinta sama punggungnya sosok itu.

Kontra.

Tapi, siapa yang tahu perasaan gue? Bahkan kalau gue tahu sekarang, apa yang akan terjadi nanti? Gue masih bisa suka sama dia lagi. Jatuh cinta di orang yang sama itu mudah.

Gila ya, gue baru liat tulisan gue yang diatas lewat scroll cepat. Tapi karena gamar itu terlalu menarik, gue memberhentikan gerak mousenya. Diatas foto-foto itu gue tulis ‘his back photo collection’ dan gue tau kini, betapa labilnya gue. Gue sadar lagi, kalau sosok itu terlalu indah untuk gue lewatkan. Bahkan kalau gue ga bakal ngeliat Re- lagi sampai habis waktu, selama kesadaran gue masih utuh, ada Re- terselip di antara jempetan berkasnya. Re- akan selalu ada, dan siap untuk berenang ke permukaan kalau ia datang dihadapan gue. Kalau enggak, gue akan meratapi lagi file-file yang berisi kenangannya. Gue rindu Re-. Ini gila.

Sabtu, 4 Mei 2013

Gue mulai ngayal seperti candu gue dulu. Kali ini cukup nyata lagi, mengingat gue yang rasanya udah diujung mulut ampir keluar kata-kata di mimpi gue. Tentang gue yang kuliah di UGM, ketemu Re-. Gue ke departemen Re- dan nunggu di sana. Tiba-tiba muncul Re-. DIa malah nanya gue darimana, dan kalau kebetulan gue tau lulusan bekas SMA ida yang juga masuk UGM. Gue sedih, karena Re- ga mengenali gue. Lalu gue berjalan pulang. Re- melihatnya dan sadar kalau kita satu SMA dan gue adalah anak yang dia cari-cari. Lalu dia ngajak gue ngobrol lagi dan ternyata dia tinggal di rumah kerabatnya yang rangkap kosan. Kamar cowok di lantai atas kamar cewek, dan gue di salah satu kamar cewek itu. Lalu gue berteman dengan dia. Saat dia lulus, dia kerja selama dua tahun di Yogya seakan ‘nungguin’ gue lulus. Lalu kami sama-sama di terima dengan beasiswa S2 ke Korea, meski beda daerah. Kami bertemu seminggu sekali. Lalu ceritanya udah bukan tentang Re-. Ini tentang keinginan bodoh gue. Jadi gue kerja selama dua tahun buat nyari modal. Gue tinggal di rumah seorang teman yang cukup kaya. Dia punya seorang anak SD dan gue sering ajarin dia. Setelah dua tahun, gue pun pulang ke Indonesia. Di bandara, nyokap anak ini menyampaikan tanda penambahan bagasi. Mereka adalah pentolan merk tas besar dan oleh karena itu mereka memberi gue oleh-oleh tas mahalnya. Dan hoodie, dan apalah semua yang gue inginkan. Hehehe. Ini melayang banget!

Gue punya cukup emosi dengan teman-teman sekelas gue dan ga kepengen certain lagi. Gue uda cerita ke nyokap gue, dan sekarang malah gue ikutan ngomel-ngomel sama nyokap. Gue sekarang di atas sudah tenang dan mengakui kalo gue juga ga pengertian. Gue egois. Dan gengsi tinggi. Sekarang di bawah nyokap gue tengah sendirian. Gue sendiri ga merasa lagi numpuk ide buat nulis, tapi ya nulis aja deh. Gue agak kecewa karena dari sekian cerita yang gue gubah ga ada satupun yang lolos seleksi majalah lagi. Makin pedih, majalah KaWanku yang zaman cerita gue sebelumnya tembus itu memuat dua bahkan satu cerita, kini mereka memuat 3 cerita sekali terbit. Dan dari peluang yang semakin besar itu, gue tetep ga lolos. Ini seperti insiden gue waktu itu soal fan fiction. Gue kecewa sama diri gue sendiri.

Rabu, 8 Mei 2013

Hari ini adalah hari pertama film Indonesia bertajuk ‘Cinta Brontosaurus’ yang pekerjaannya di dominasi oleh penulis terkenal bangsa Raditya Dika tayang di bioskop. Gue pengen nonton tapi gue jomblo. Oke, bukan itu. Gue lagi krisis uang dan ga mungkin nonton kalo ga di traktir. Ada yang mau traktir?

Tadi pas pelajaran PKn, guru sekaligus wakil kepala seklah bidang kesiswaan itu ngoceh-ngoceh soal alumni yang masuk universitas dekat sekolah yang datang untuk mengumumkan adanya lomba pendidikan yang diselenggarakan di kampusnya itu. Dan yak, tema favorit gue, Re- muncul. Geologi, UGM. Ohemgeee. Pelis deh.

Di jalan, dengan bodohnya Yul kira gue jatuh cinta sama Re- saat nonton pertunjukan drama sejarah kelas 11 zaman gue kelas 10. Yaelah, kan zaman gue kelas 10 dia kelas 12 -____- Mana ada anak laen yang di sana, dan gue dengan suara agak tinggi bilang ‘nggak lah!’. Masa gue suka sama yang setahun di atas gue itu. Haduh-haduh.

Bagaimanapun juga, mereka semua mengingatkan gue sama Re-. Guru dan Yul. Entah mereka sekongkol atau tidak.

Jumat, 29 Maret 2013

We're Social




Jumat, 15 Maret 2013

Banyak hal detil yang ga gue certain di sini. Yang pasti, gue merasa selangkah lebih dekat dengan MLEDK. Salah satu alasannya, karena lagi ga ada kejadian yang menyangkut tema jalan dan uang. Yah, itu semua yang bikin gue tampak aneh di mata mereka. Gue tau gue punya seribu alasan yang membenarkan gue, dan dia juga punya seribu alasan yang membenarkan dia. Intinya sih gue bingung. Mereka ‘maksa’ gue buat cerita alasan gue gamau gabung mereka cari hadiah buat temen kami. Bukannya gue menutup-nutupi, eh bukan. Ya, gue menutupi dengan kelat-kelit. Karena gue ga suka atmosfir yang biasa terjadi kalau orang cerita tentang hal-hal yang ‘seperti itu’. Gue tau alasan gue ga masuk akal tapi ya gimana. Jawaban gue ga bakal abis mereka tanyain tiap celahnya. Ujung-ujungnya sama, gue di isolir. Ya gue merasa.

Oke gue pengen marah. Jadi gini cara mereka. Yul, katanya merasa ga enak karena nanya-nanya hal kaya gitu terhadap gue. Tapi grup kosong? Mereka chat tanpa gue. Itu ga masalah memang, jadi masalah buat gue ketika bahan pembicaraan mereka adalah gue. Ya gue tau. Gue tau posisi sudut pandang mereka. Tapi bisakah gue membela diri? Gue ga kaya Nas yang gamau bawa iPhone 4s nya. Bagi gue dia memang aneh, karena males untuk membawa sekalian barang miliknya. Beda dong sama gue yang musti kucuk-kucuk dateng, naik bus transjakarta, panas, jalan jauh, ngorbanin waktu dan uang buat makan siang di sana. Sementara jika gue ikut nyokap, gue palingan makan abis 15 ribu. Itu uda makanan enak pake ikan. Lah kalo gue ke mall dan makan di sana 15 ribu cuma dapet sepotong tipis ayam dengan tepungnya 2 cm dan tajemnya ga karuan. Lantas nanti gue sakit leher. Yaoloh. Mereka ga pernah mikir itu. Mereka sebulan seminggunya dapet uang ngalir. Lah gue kerja seminggu aja minta bayaran ga enak. Kerja loh gue. Kerja. Lah mereka? Di kamas main computer. Apalagi si Ice. Seharian naro pantat ga bakal gemuk ga bakal dimarahin dan uang tetep ngucur. Gue? Gausa gue jelasin deh. Intinya, gue ga mau nangis histeris pas ret-ret dan menginjak peluh orang tua gue sehari-hari. Gue ga mau jadi anak yang sok baik. Gue ga mau jadi anak yang sok sayang sama orang tuanya. Gue ga mau jadi mereka.

Ketika gue minta rekening Yul buat transfer sejumlah uang patungan, dia bilang ga punya rekening. Seinget gue dia punya satu deh di Danamon. Okelah. Itu bukan nama dia. Gue bilang nitip bokapnya, ga bisa? Oke, lo bukan anak bokap lo. Titik.

Apa gue ga pengertian? Gue pengen cari blog rahasia mereka dan liat pemandangan dari sudut mereka.