Kamis, 07 Juni 2012

Secret Admirer


Rabu, 6 Juni 2012

Liburan membuat gue kehilangan cerita. Tentu cerita tentang ‘dia’. Re-, he has graduated. Semua yang gue tulis di atas akhirnya kejadian juga. Kesamaan yang menjadi media pertemuan pertama kita dan pertemuan selanjutnya. Dia bukan kakak kelas gue lagi, dia alumni sekolah gue. Dia bukan anak SMA lagi, dia udah pergi ke kampus. Tapi dia tetap Re-, yang selama hidupnya menjalani metamorfosis. Secara sadar maupun tidak. Sama halnya dengan gue yang merupakan ciptaan progresif, gue ga akan pernah statis. Seberapa kuat manusia bertahan statis, waktu memegang kekuasaan yang dahsyat untuk mengubah setiap insan. Kita bukan garis sejajar apalagi berhimpit. Kau dan aku berpotongan membentuk sudut 93o. 9 bulan dibawah papan nama sekolah yang sama, belajar di gedung yang sama, dan pergi ke kantin yang sama. Tidak seperti seorang yang sekadar lewat di depan matamu, aku mampir sebentar ke teras hidupmu. Lalu mengintai dari balik tembokmu seperti pencuri. Itulah aku.

Kak Re-, hati-hati di jalan.

Jangan pernah mencoba mengingat aku, atau menebak siapa aku. Itu hanya membuat kepalamu sakit.

Kamis, 7 Juni 2012

Tadi berempat ngumpul-ngumpul, topik obrolan berujung pada yang galau-galau. Yul mengatakan bahwa banyak yang menyerah pada cintanya setelah mendengar seorang teman mengangkat bendera putihnya. Dengan suara lirih aku berkata pada ia yang tengah tidur di pangkuanku. ‘Gue uda di itung belom?’ lalu ia menyadari bahwa aku termasuk orang yang menyerah. Ia menyetujuinya dengan berkata bahkan aku tidak bisa mengobrol dengannya dan lain-lain. Kemudian aku bergumam,’Dari awal gue suka dia, gue uda nyerah.’ Gue rasa ga ada yang denger. Itu memang perkataan buat gue sendiri.

‘Lo ga follow twitternya?’

‘Kagak. Twitter ga gue follow, facebook ga gue add. Mutual friendsnya cuma 13.’ Sahut gue.

Lalu gue mengeraskan suara dan bilang,’Gue secret admirer.’

Jumat, 01 Juni 2012

No. 1


Selasa, 29 Mei 2012

Gue nulis bukan berarti UAS sudah selesai, tapi karena bahan ulangan besok gue sepelekan gini deh. Setelah hibernasi cukup panjang, gue bahkan udah lupa rasanya nulis. Kalo begini, banyak hal jadi terlewat. Misalnya kemarin, tanggal 25 apa 28 gitu, kakak kelas yang pernah gue ‘suka’ ulang tahun. Tentu gue tidak melakukan apa-apa. Gue cuma keinget masa SMP dulu, waktu gue begitu tergila dengan wajahnya. Seperti orang kasmaran, gue jauh merasa Re- lebih baik dibandingkan anak ini. Sama-sama kakak kelas, tapi dia setahun di atas gue. Mukanya putih, bulat, rambut pendek, dan mata sipit. Bukannya SARA tapi itu memang penampilan fisiknya. Dia cukup cute tapi gue sadar Re- yang paling keren. Dari antara semua cowok yang pernah gue anggap keren, dia nomor satu.

Bukannya gue ga pengen nulis diary dalam bahasa Inggris, sebagaimana kata diary gue ambil. Tapi apa daya, nulis pake bahasa Indonesia tercinta lebih seru.

Seseorang yang gue anggap keren juga sebagai temannya Re-, kemarin duduk di satu ruangan yang sama dengan gue meski gue baru menyadari ketika berjalan keluar.

Satu kasus menimpa gue dan Lee tadi siang. Gue ga tau apa Lee juga ikut rugi, karena semuanya ini salah gue. Tapi Lee ikut kena. Bukan salah gue semua juga sih, tapi bagaimana ini bisa tertangkap itu salah gue. Kasusnya gausah gue ceritain ah, males.

Gue kembali terjerumus ke dalam permainan pikiran. Gue tulis ‘kembali’ karena ini bukan yang pertama. Rasanya dari pertama kali gue kenal yang namanya ‘suka’. Permainan pikiran, seperti penggambaran fan-fiction yang bermain di otak gue. Jadi gue menjadi pemeran utama yang hidup sesuai keinginan gue. Gue tau, bila dilanjutkan, gue akan menjadi gila.

Gue menjadi perantara teman gue yang meminta novelnya kembali dari teman yang lain. Setelah kian lama menunggu sampainya buku itu di tangan gue, tuh buku malah kebasahan di tas gue. Botol minum gue bocor. Bukunya 50 ribu-an, dan gue juga ga enak untuk mengembalikan dalam bentuk keriting-keriting.

Wednesday, May 30th 2012

Let me try to write in English.

Finally, i’ve confessed all. What I feel along year. Not to him, of course. To my friends. I shout this to them before. Place together with no one we know. Oh, no skill me.

Karena bingung pake bahasa inggris, gue pake bahasa Indonesia lagi aja. Gue membuat semuanya kurang asik. Harusnya gue kasih klu-klu dulu. Bilang dia anak OSIS, pengurus inti tahun lalu dan berperan sebagai bendahara. Kelas IPA 2, pernah menjadi anggota paskibra namun akhir-akhir ini lebih banyak menjadi pemimpin upacara. Namanya sama dengan ‘itu’ (sambil memandang ke satu anak). Re-.

Kan kalo begitu lebih keren.

Thursday, May 31st 2012

I found out that he and all 12st grade students will hold their graduation on 2nd June 2012, 2 days more from today. Tomorrow i will has a chance to see him for a seconds. I go to school at 7am and just 45 minutes to complete my tasks. I thought they will do the last practice for graduation on 8am. I will make a good reason. Accompany friend. It’s not wrong either.

Jumat, 1 Juni 2012

Karena kebudayaan karet bangsa, gue kehilangan kesempatan. Pengumuman menyatakan bahwa ulangan dimulai pukul 7, tapi 7.20 belum juga mulai. Waktu akhirnya selesai jam 8an, gue baru nyadar kalo Re- ga mungkin baru dateng jam segitu. Pasti dateng paling lambat 5 menit sebelum mulai. So frustating. Besok dia pelepasan. Pengembalian anak kepada orangtuanya. Secara jelas ia sudah tidak terikat di SMA gue lagi. Kalau satu-satunya kesamaan kita sudah berbeda, mau apa lagi gue? Sisa kesamaan kita adalah kewarganegaraan, spesies, tempat tinggal, bahasa, ke-cacatan mata.

Rabu, 23 Mei 2012

Di Tengah UAS


Rabu, 23 Mei 2012

Headline news hari ini : Semalem gue mimpiin Re-!

Kemaren itu akhirnya gue utarakan ombak penasaran gue ke Oni. Gue minta dia tanyain ke temennya yang kelas 12 tentang universitas Re-. Tadi dia menyatakan kesulitannya mengabulkan permintaan gue. Susahnya jadi stalker gini deh. Oke, gue masih harus belajar, daaa.

Senin, 14 Mei 2012

Hibernate


Kamis, 3 Mei 2012

Gue menemukan bahwa teman sebangku gue juga merupakan stalker semacam gue. Gue lagi senang dengan istilah stalker, karena merasa itu gue banget. Penguntit. Pengumpul segala informasi mengenai seseorang yang bahagia bila bisa melihatnya. Meski gue ga mengatakan secara langsung kepada teman sebangku gue ini.

Tugas kelompok inggris, gue bersama seorang anak cowo yang punya kakak perempuan yang duduk di bangku kelas 12. Teman kelompok gue ini membeberkan informasi sejauh yang ia tahu. Gue ga terlalu khawatir karena dia ga tau apa-apa. Beda kalau gue nanya sama anak-anak yang udah rada deket, terutama kalau dia cewe. Meski gue menyebutkan angkatan kelas 12, mereka pasti kena provokasi Oni. Kebetulan Oni dan kelompoknya cukup jauh untuk bisa denger obrolan gue. Basi sih, pada akhirnya gue kasih tau ke Oni juga. Bahwa seminggu ini kelas 12 masuk dari jam 8 sampe jam 11 untuk latihan graduasi. Kemaren sih sempet siapa gitu bilang kalau anak kelas 12 berkeliaran. Meski telat banget infonya, secara besok uda hari terakhir masuk, gue ga merasa rugi-rugi amat.

Gue sempet berpikir untuk menyamar via facebook untuk mengetahui universitas yang akan ia masuki. Tapi ide ini payah banget. Kalo twitter? Hm. Kalo twitter boleh tuh. Mention kan ga keliatan. Tapi apa dia mau bales? Pedih banget rasanya masih ga tau tujuan kampusnya.

Senin, 14 Mei 2012

Baru pulang kemping besar kemarin. Dari acara kemping, ga banyak yang perlu gue ceritain, karena kalau mau semua di ceritain, jari-jari gue ga kuat. Cuma ada satu penyesalan gue yang rasanya berat dan mengganggu banget.

Malem kedua, gue ngumpul rame-rame main Pancasila lima dasar. Karena kalah, gue disuruh jawab pertanyaan mereka. Siapa cowok paling ganteng di kelas gue. Karena otak gue bener-bener mantek pas itu, gue mencoba mencari jawaban lain. Gue bilang aja, ga ada yang ganteng. Lalu gue menawarkan hal lain. Gimana kalo gue jawab sesuatu yang ga nyambung. Mereka nolak. Sampe kata-kata yang menjelaskan bahwa gue menyukai seseorang, lalu mereka heboh mengejer gue. Tentu dengan pertanyaan. Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar membuat gue semakin ciut. Rahasia besar gue semakin mengerucut menuju kebenaran. Pada ujungnya, mereka mengajukan nama Re- yang bikin gue mati kutu. Meski gue teuteup ngeles bahwa mereka ga akan tau. Semuanya bener-bener kacau. Gue ga kepikir kalau mereka akan begitu. Mereka curang. Aturannya kan kalah sekali 1 pertanyaan. Mereka nyerocos dan gue tau ujung-ujungnya gue dikatain maen rahasia-rahasiaan. Bagi gue, mereka ga cukup deket untuk gue bagi sesuatu tentang Re-. Mereka kan beda kelas. Pokoknya ada batasannya deh. Gue kembali gagal menjaga rahasia. Setelah Re- (kalau ada) ga akan seorangpun yang akan tau. Gue janji. Biar hanya mata gue yang menjelaskan segalanya. Mulut gue ga akan sedikitpun nyenggol. Perhatikan itu.

--

Hibernasi gue belum selesai. Minggu ini gue ga yakin akan ada waktu buat nulis lagi, begitu juga minggu depannya. Pokoknya, hibernasi masih jalan.

Daaah! :)

Kamis, 03 Mei 2012

Padet


Baru ngeliat twitternya lagi, yang tua-tua. Sebuah tweet yang dirilis 18 Desember 2011, baru gue sadari artinya. Kemaren sempet baca, tapi ga nyadar. ‘Starts with (initial her (ex)girlfriend) and ended with (her (ex)girlfriend name last character)’.  As fas as I read, he love pretty girl. Le’ me play you one song. You are my ha ha ha ha heart breaker!

Senin, 23 April 2012

Walau telat.. Happy Kartini’s Day!

Seorang temen gue di taksir sama kakak sepupu Cha, yang bersama kakaknya Cha klaim cakep. Tentu cakep di sini merujuk pada wajah, karena gue ga pernah mendengar sesuatu yang baik (gue anggap baik) keluar dari mulut Cha saat menceritakan mereka. Lagipula cakep di sini bukan menurut gue. Gue sekali ngintip facebook kakak sepupunya itu, dan dari yang terpampang sebagai foto profilnya, gue ga tertarik. Ya, terserah kalau dunia bilang dia cakep. Gue sendiri ga terlalu ngerti tentang criteria cakep. Ga semua cowo yang gue anggap sedap di pandang itu cakep menurut kriteria orang, dan ga semua cowo yang di anggap cakep itu menyenangkan untuk gue lihat. Oke lah, cakep menurut banyak orang itu ga terlalu nyepetin mata. Tapi tentu, favorit gue kadang jauh dari kata cakep. Soal sikap kakak sepupunya ini, Cha menyiratkan, maksudnya gue menangkap bahwa Cha ingin gue menggambarkan ia seorang yang gaul. Berani melakukan hal gila, mengucapkan kata kasar yang sedang nge-trend, dll. Kakak sepupunya ini, bukan tipe gue banget. Yeah, ini udah terlalu menyimpang.

Jadi, temen gue ini si Ani. Beberapa waktu lalu juga udah kedengeran tentang kakak sepupu Cha yang pengen kenalan sama Ani. Ani sih ga banyak respon, dia juga mengaku gatau harus merespon apa. Gue sendiri cuma kaget waktu pertama dengernya. Lagipula si Ani lumayan cakep kok. Nah, tadi di jalan, Yul mengungkapkan antusiasmenya yang sama halnya dengan Cha tentang hubungan Ani dengan kakak sepupu Cha. Biar gampang gue sebut aja kakak sepupunya Cha sebagai Chance. Katanya Ani sudah di invite Chance di blackberry messenger tm. Tinggal nunggu kelanjutannya aja. Bukan ini yang mau gue ungkapkan.

Yul sendiri mengakui bahwa ia dan Cha sangat semangat. Ani sendiri seperti yang tadi sudah di katakan, ia tidak begitu menampakkannya. Lalu Yul berkata, ‘Gatau ya, gue kalo temen gue seneng gue ikutan seneng’. Pernyataan Yul menimbulkan konflik batin dalam diri gue. Yang ia katakan seperti dialog dalam drama, ketika satu pihak yang mencintai sementara yang di cintai mencintai orang lain lalu si cinta sepihak mendukung keputusan orang yang ia cintai. Bahwa cinta tidak harus memiliki, dan kebahagiaan orang yang ia cinta juga kebahagiaannya. Kembali ke masalah Yul, karena gue tidak merasakan hal yang sama. Tidak pernah. Berbagai kemungkinan muncul di kepala gue. Sebagai manusia yang masih banyak dosa, yang pertama terpikir adalah ketidak tulusan Yul. Rasa semangat yang ia rasakan, bahagia temannya yang juga bahagianya tidak bisa kita telan mentah-mentah. Karena banyak orang berpikir mereka anjing, padahal mereka kucing (ini perumpamaan). Mencoba jujur kepada diri sendiri dan membuka segala kemungkinan, ketika gue berada di posisi seperti Yul, yang gue temukan adalah rasa iri, lalu kalah dan minder. Biasanya saat gue udah pede dan berpikir mencapai hasil tinggi lalu kenyataannya gue jauh dari itu dan hasil yang gue inginkan di capai oleh orang yang tidak gue anggap ‘wajar’. ‘wajar’ maksudnya gue merasa dia ga cukup pantes untuk menang dari gue. Ketika gue menganggap gue lebih baik dan seharusnya menang, dan ga sudi untuk kalah dari dia. Lalu gue sadar gue jauh dari yang gue pikirkan. Gue sangat bobrok dan jelek. Lalu gue menemukan seribu kekurangan gue dan mulai minder. Rasa iri, ingin berada di posisi orang lain. Gue yang belum begitu kenal Yul ga boleh langsung memfitnahnya begitu kejam berdasarkan diri gue sendiri. Tapi pertanyaan naif yang gue ajukan dalam hati, gue kah yang terlalu egois atau dia yang munafik? Ini sama sekali ga adil buat Yul, karena mungkin dia benar-benar tulus. Dia kan ga bisa di samain dengan gue yang kaya gini. Penuh cemburu, rasa GR, dan setumpuk karakter aneh lainnya.

Selain itu, selama perjalanan gue kembali meneguhkan pemikiran yang pernah mencuat. Temen angkot gue.. rada terlalu sensitif. Seorang cowo yang kadang ikut kami kerap di bully secara verbal. Mungkin menurut para gadis itu menyenangkan, mungkin bagi cowo itu bukan masalah besar, mungkin gue yang terbiasa harus ‘mengemis’ teman jadi merasa itu terlalu berlebihan. Gue menyetujui apa yang nyokap gue sempat katakan pada kakak gue. ‘Carilah cewek yang mau mendengar dan ga keras kepala’.

Membicarakan soal ulangan pembangunan karakter yang berbentuk esai, Lead bilang bahwa terdapat 3 soal. Menyebutkan isi Pancasila, artinya, serta pengaruh untuk siswa dalam pembelajaran. Dee berkomentar bahwa soalnya hanya 3 tapi optionnya banyak. Cowo itu membantah dengan menyatakan bahwa yang tepat itu beranak banyak. Option itu ada hanya pada pilihan ganda. Lalu Dee dan Lead dengan serius berkata bahwa pilihan kata option itu benar. Gue hanya diam ketika mereka berdebat. Kebetulan yang lain sudah turun. Gue ikut mengolah kata itu. Kalo gue harus menyuarakan pendapat gue, gue menyetujui cowo itu. Gue baru inget kalo option itu emang pilihan dan hanya terdapat pada pilihan ganda. Tapi melihat suasana kritis yang dihadirkan Lead dan Dee gue mengurungkan penyuaraan itu. Yang ada gue jadi no friend saat itu juga. Gue jadi tampak seperti pengecut, membiarkan cowo itu kalah oleh sebuah kesalahan. Lead dan Dee mengokohkan pendapat mereka seakan mereka adalah kebenarannya. Dengan wajah sinis mereka, tentu. Mereka menambahkan bahwa cowo itu sok tau memang benar. Dari pengamatan gue, cowo itu memang banyak tau, meski cara penyampaian yang ia gunakan kurang cocok di lingkungan kami. Terbukti dari respon negatif para wanita. Dengan keadaan Dee dan Lead yang tampak seperti kebenaran, membela cowok itu adalah ide terburuk. Mereka pasti ga akan goyah lalu mencap gue sebagai pengkhianat.

Gue jadi inget satu hal. Saat kami masih utuh dan belum ada yang turun, pembicaraan mengenai camping sampai di Anto. Anto ini lebih dominan berteman dengan wanita dan bagi anak-anak pria ini adalah sebuah lelucon. Cowo yang bersama kami ini berbicara mengenai Anto seperti banci atau apalah. Sontak seluruh wanita menyerukan bahwa cowo ini kejam. Para wanita membela Anto dengan berkata bahwa Anto teman mereka. Gue merasa tindakan para wanita ini berlebihan. Dari 3 orang pria yang cenderung berteman dengan wanita yang gue kenal, Anto menduduki tingkat keparahan ke-2. Dan alasan membela Anto dengan alasan teman itu ga adil. Itu sih KKN namanya. Nepotisme. Menyerang bersamaan juga bukan ide yang bagus. Akan lebih kuat bila membela dengan alasan yang logis. Bahwa Anto bukan banci, ia hanya lebih nyambung ngobrol dengan seorang cewek. Misalnya. Gue sih ga tau ya dalam hatinya Anto. Kalau temen gue yang tingkat keparahannya ke-3 alias yang paling normal sih gue menganggapnya begitu. Dia cowok banget, cuma candaannya lebih menarik ke cewe. Gitu aja. Meski gitu gue tetap mengakui, tanpa Yul, suasana itu jadi kurang enak. Terbiasa Yul yang mendominasi dengan kebawelannya, tanpanya suasana jadi kosong. Mungkin segala ketidaksepahaman gue dengan Yul adalah akibat keaktifannya berbicara.

Sekian ulasan mengenai hari ini. Sampai bertemu lagi.

Jumat, 27 April 2012

Tulisan terakhir di minggu ini. Gue ga tau mau nulis apa. Oh, yang pasti gue sedikit mengorek info. Kelas 12 masih masuk beberapa waktu untuk mempersiapkan graduasi. Libur panjang mereka akan masuk untuk latihan. Gue ga berharap banyak untuk setiap saat bisa melihat Re-. Tapi anggapan gue bahwa setelah UN semuanya selesai ternyata salah. Usai pengumuman dan graduasi nantilah. Semuanya usai.

Tapi gue ga akan mengakhiri semuanya. Gue akan tetap diam sejenak melihat papan nama sebuah toko perhiasan yang tertulis Re-, atau mengabadikan namanya menjadi figuran di cerpen-cerpen gue selanjutnya. Meski bukan cerpen yang akan membuat orang rela meneteskan air mata.

Minggu, 29 April 2012

Masih setengah delapan pagi. Bangun-bangun gue ngebut mau buka laptop. Tentang mimpi aneh gue lagi. Kenapa gue mau nulis di sini? Karena ada Re- nya.

Tengah malem gue bangun, ga tau jam berapa. Gue minum air yang banyak lalu ke toilet. Gue ga sadar, apa mimpi gue lanjut atau gimana. Tapi saat gue mimpi yang kedua, gue merasa pernah ‘nonton’ mimpi yang sama, entah malam itu juga atau yang sebelumnya. Kenapa gue bilang nonton? Karena pada awalnya gue memang ga berpartisipasi. Gue cuma kaya orang yang tahu segalanya. Tapi pada akhir-akhirnya gue ikutan.
Awalnya cerita tentang Re-. Re- yang dipaksa orangtuanya dan orangtua seorang cewe untuk mengingat cewe itu. Katanya cewe itu adalah teman les masa kecilnya. Tapi Re- ga kunjung ingat. Trus di kasih liat tayangan zaman dulu Re- dan cewe itu. Gatau tayangan atau apa, tapi gue menyaksikannya. Yang gue inget adalah gambar beberapa anak yang berdiri di tengah banjiran air. Tapi air bersih. Gatau deh. Trus ada gambar cewe itu yang lagi ulang tahun. Kayanya mukanya itu muka seseorang di film yang pernah gue tonton. Gambaran cewe gemuk dan jelek gitu. (sori bukan mau ngehina) Anehnya, di akhir mimpi di mana gue ikut bermain si cewe bukan yang tadi gue liat. Intinya, beda.

Gue baru inget. Gue mungkin ga berpartisipasi dalam mimpi gue sendiri. Tapi gue merasa ada kecemburuan ketika disebutkan bahwa ada seorang cewe teman les masa kecilnya yang sekarang semacam ingin dipersatukan. Bukan ga ada harapan secuil dalam hati kecil bahwa orang itu gue. Gue sebagai tokoh yang ga muncul tapi dapat merasa.

Lalu karena gue ga inget lengkap, gue langsung aja ke akhir. Si cewe yang ga jelek tadi di kunci-in di sebuah kamar dengan akuarium gede (?). Lama kemudian, salah satu orang tua dari mereka muncul dan memberikan sebuah pematik api yang perlu kode untuk menyalakannya serta sebuah pisau. Yang gue rada bingung, karena pematik apinya itu keren, si cewe bisa pamer ke beberapa orang. Padahal harusnya ga ada orang di sana. Tiba-tiba tokoh cewe itu berubah menjadi gambaran seorang artis yang gue suka. Dia menyebutkan nama gue sebagai kode dengan terbata. Kemudian ia merutuki dirinya bodoh. Tokoh cewe ini kembali ke seorang yang ga gue kenal. Jadi si artis kesukaan gue cuma ngomong  nama gue lalu hilang. Malah kayanya terbersit rasa senang di hati gue bahwa artis kesukaan gue menyebut nama gue. Yang ini gue ga yakin emang begitu atau halusinasi. Balik ke mimpi gue. Sekonyong-konyong entah nyusup darimana, gue hadir. Si cewe yang udah bukan artis kesukaan gue ini mengacungkan pisau ke perut gue. Tapi bukan ke perut gue, si pisau malah nyelip ke bagian baju gue. Gue merebut pematik api itu dan menyebutkan nama gue sebagai kode. Ternyata berhasil. Lalu pintu terbuka dan orang yang jahat tadi ngomong seperti di film-film bahwa ini belum berakhir. Dia malah tertawa. Kayanya pematik api itu jebakan. Gimana caranya, gue menjadi bagian dalam akuarium. Lalu muncul secara rapi ikan gurame dan ikan-ikan kecil di bawahnya. Lalu si jahat bilang arwana-arwana. Muncul lah arwana cungkring. Lalu si arwana kaya ngejer gue. Mimpi habis. Kalo tentang arwana ngejer gue, gue juga rada bingung. Soalnya pas bangun gue mikir endingnya sendiri. Rese banget di tengah-tengah gue bangun. Yang si arwana ngejer gue mungkin adalah bagian mimpi gue, mungkin juga imajinasi gue. Ada satu lagi. Yang ini gue juga rada ga yakin antara mimpi atau rekonstruksi pikiran doang. Bahwa kenyataannya (dalam mimpi itu. Jadi kenyataan dalam mimpi.) gue adalah si teman les masa kecilnya Re-. Meski gue punya perasaan seperti itu, kayanya yang itu imajinasi deh. Soalnya kan baru di bilang sama si jahat setelah kejadian arwana. Liat gue. Baru beberapa jam gue mimpi udah lupa. Jangan ragukan kemampuan otak gue berkhayal. Gue bisa di tengah malem pengen minum dan bener-bener berasa minum. Padahal tangan bergerak aja belom.

Setelah nulis sampe akhirnya, gue baru sadar ada yang kelewatan. Kayanya Re- yang lagi terjerat tali di suruh nonton film yang tadi gue bilang deh. Jelasnya gue lupa banget. Ada yang Re- omongin, ada yang perlu di ceritakan di situ biar mimpi ini bisa lebih kelihatan benang merahnya. Ada kejadian yang cukup penting di situ. Percakapan dan adu mulut yang isinya bikin perasaan gue campur aduk. Cemburu, frustasi, dll. Parahnya, gue lupa.

Ga penting banget ya, diary gue tulis mimpi yang ga jelas. Mimpi gue ga punya benang merah yang jelas. Mungkin karena yang nempel di otak gue cuma potongan-potongan frame dalam sebuah film panjang. Terlalu banyak yang hilang menjadikannya ga nyambung. Meski hanya mimpi, rasanya gue seneng banget bisa melihat Re-.

--

Gue telat ngepost sampe seminggu lamanya. Parahnya, seminggu ini gue ga sempet nulis. Keparahan ini gue duga akan berlanjut selama beberapa waktu kedepan. Besok gue ada acara yang dilanjutkan jalan untuk nyari baju buat kondangan. Minggu depannya gue kemping besar. Minggu depannya sodara gue ada nikahan. Setelah nikahan itu, Seninnya gue ulangan akhir semester. Kaya judulnya, Padet.